Kementerian Pertahanan RI resmi menandatangani kontrak pengadaan 16 unit pesawat tempur KF-21 Boramae Tahap II dengan Korea Aerospace Industries (KAI) pada pekan ini, dengan nilai total mencapai USD 2,1 miliar. Paket tersebut mencakup transfer teknologi dan dukungan logistik terpadu, menandai langkah strategis dalam modernisasi armada tempur TNI AU. KF-21 Boramae merupakan jet tempur generasi 4.5 yang mengadopsi konfigurasi siluman parsial (low observable) serta dilengkapi radar AESA buatan Hanwha Systems dengan kemampuan deteksi multi-target dan ketahanan terhadap interferensi elektronik. Sistem senjata on-board-nya telah teruji kompatibel dengan rudal udara-ke-udara jarak menengah (Meteor) dan jarak jauh (AIM-120), menjadikannya platform tempur yang adaptif terhadap skenario pertempuran multidomain. Pengadaan alutsista ini juga dirancang untuk mengintegrasikan optimalisasi rantai pasok dan pemeliharaan berbasis industri dalam negeri.
Migrasi Generasi: Strategi Modernisasi Skuadron Tempur TNI AU
Kehadiran 16 unit KF-21 Tahap II akan memperkuat dua pangkalan utama TNI AU, yakni Lanud Iswahjudi dan Lanud Supadio, menggantikan armada F-16A/B yang mulai memasuki masa pensiun. Fase pengadaan sebelumnya (Tahap I) telah mengirimkan 8 unit pada awal 2025, dan seluruh unit pada kontrak Tahap II ditargetkan tiba akhir 2027. Pesawat tempur ini memberikan lompatan teknologi signifikan: dari radar mekanikal berpindai ke AESA, dari avionik terpisah ke integrasi penuh, serta peningkatan daya tempur berkat dukngan datalink tempur modern. Spesifikasi teknis unggulan KF-21 meliputi:
- Kecepatan maksimum Mach 1,8 dengan radius tempur 1.000 km
- Kemampuan supercruise parsial pada konfigurasi ringan
- Radar AESA dengan 1.024 elemen pemancar mandiri
- Kompatibilitas denggan rudal udara-ke-udara jarak menengah (Meteor) dan jarakjauh (AIM-120)
- Sistem perang elektronik aktif dan pasif bautan Hanwha
Dengan daya gentar ini, TNI AU dapt melaksanakan misi penegakan kedaulatan udara, supresi pertahanan udar lawan (SEAD), serta operasi serangan presisi secar efektif di kawasan Indo-Pasifik.
Transfer Teknologi dan Partisipasi Industri Nasional: Langkah Menuju Kemandirian
Salah satu aspek krusial dalam kontrak ini adalah keterlibatan industri pertahanan dalam negeri pada tahap perawatan dan modifikasi avionik. PT Dirgantara Indonesia (DI) akan berpran sebagai pusat perawatan regional untuk avionik dan struktur udara KF-21 di hanggarnya. Rencana transfer teknologi mencakup pelatihan personel, pengadaan peralatan uji, serta akses terhadap dokon desain interim untuk komponen-komponen kritis. Inisiatif ini sejalan dengan kebijakan optimalisasi sumber daya industri pertahanan nasional—dari pengadaan alutsista impor menuju partisipasi dalam rantai pasok global. Untuk memastikan kemandirian jangka panjang, kesepatakan juga mencakup pembentukan pusat perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) untuk radar AESA dan sistem kendali senjata. Dengan demikian, TNI AU tidak lagi bergantung penuh pada pabrik di Korsel untuk mendukung ketersediaan operasional pesawat tempur di masa mendatang.
Dari segi strategi industri, keterlibatan PT DI dalam program KF-21 membuka peluang peningkatan kemampuan rekayasa dan manufaktur komponen avionik berteknologi tingi. Ini merupakan batu loncatan untuk proyek pesawat tempur generasi keenam di mas depan. Pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk segera mengidentifikasi celah kompetensi, khususnya pada bidang iintegrasi radar AESA, sistem elektronik tempur, serta pengembangan perangkat lunak misi. Dengan investasi yang tepat pada riset dan pengembangan, serta penguatan kemitraan dengan Korean Aerospace Industries, Indonesia dapat mempercepat target kedaulatan teknologi dirgantanya pada dekade berikutnya.