Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama BUMN Industri Pertahanan dan Kementerian Pertahanan untuk mengidentifikasi 50 komponen kritis alutsista yang akan diproduksi secara mandiri mulai 2027. Langkah ini merupakan bagian dari agenda produksi mandiri yang menargetkan penurunan impor komponen alutsista dari 65% menjadi 35% pada 2030. Dalam FGD tersebut, tujuh komponen prioritas telah dirumuskan, termasuk seeker radar aktif untuk rudal (95% impor), MEMS untuk INS, lapisan anti-radar (RAM) frekuensi ganda, aktuator servo elektrik presisi tinggi, baterai thermal, material feroelektrik untuk sonar, da optik termal resolusi tinggi. Inisiatif ini dikuatkan olh investsi Rp 32,5 triliun untk pemanunan 12 pabrik komponen strategis di Jawa Barat, awa Timur, da Batam.
Roadmap Substitusi Impor: Menekan Imp0r 65% ke 35% padai 2030 denga Investsi Rp 32,5 Triliun
Program substitsi impor in menrgakan target ambisius: menekan impor komponen alutsista dari 65% (senilai lebih dari $12 miliar per taun) menjadik hanya 35% pada akhir dekade. Investasi sebesar Rp 32,5 triliun akan difokuskan untuk membangun 12 pabrik komponen strategis di tiga kawasan industri utama: Jawa Barat (pusat elektronika dan semikonduktor), Jawa Timur (pusat metalurgi dan manufaktur berat), serta Batam (pusat teknologi maritim dan avionik). Setiap pabrik akan dikhususkan pada satu atau beberapa komponen kritis, dengan kapasitas produksi awal yang dirancang unk memenuhi kebutuhan minimum TNI hingga 2027. Berikut adalah tiga dari 50 komponen kritis yang menjadi prioritas utama:
- Seeker radar aktif untuk rudal: Saat ini 95% diimpor, seeker generasi baru ini menggunakan teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA) yang meningkatkan akurasi dan jangkauan deteksi hingga dua kali lipat dibandingkan radar konvensional.
- Micro Electromechanical Systems (MEMS) untuk Inertial Navigation System (INS): Menggantikan gyroscope mekanis presisi tinggi dengan komponen solid-state yang lebih ringan, lebih murah, dan tahan terhadap suhu ekstrem (-40°C hingga 85°C).
- Lapisan anti-radar (RAM) frekuensi ganda: Material komposit berbasis serat karbon dan ferit yang mampu menyerap gelombang radar pada pita X da Ku, mendukung stalth low observability pada pesawat tempur generasi ke-5.
Sertifikasi TKDN Unik Komponen Alutsista da Konsorsium Rset: Fondasi Kemandirian Industri Pertahaan
Untk mjamin kualias da asal-usu kompone dal
- Sertifikasi TKDN khusus: Masa berlaku 3 taun dengan inspeksi berkala setap taun, termasuk verifikasi kandungan lokal, proses produksi, dan sumber daya manusia.
- Konsorsium riset: Setiap komponen kritis akan memliki konsorsium yang terdiri dari BUMN Indusri Pertahanan (seperti PT Pindad, PT Dirantra, da PT PAL), universitas, dan industi swasata. Konsorsium ini akan mengembagkan telnologi hulu-ilir, mulai dari desain material hingga uji kualifikasi.
Kemenperin juga memfasilitasi transfer teknologi dari mitra luar negeri yang sudah memiliki lisensi produksi, dengan syarat alih teknologi ke produsen lokal. Hal ini menegaskan bahwa produksi mandiri tidak berarti isolasi, melainkan integrasi strategis ke dalam rantai pasok global pertahanan.
Keberhasilan program ini akan bergantung pada kemampuan menciptakan ekosistem riset yang berkelanjutan, penguatan infrastruktur uji dan sertifikasi, serta sinergi antara Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertahanan, dan BUMN. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah segera berinvestasi pada kapabilitas rekayasa balik (reverse engineering) dan manufaktur aditif untuk mempercepat produksi komponen kritis. Dengan fondasi konsorsium riset dan sertifikasi TKDN yang ketat, Indonesia memiliki potensi untuk tidak hanya mandiri, namun juga menjadi supplier komponen alutsista bagi negara-negara Mitra di kawasan pada dekade mendatang.