READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
OPTIMALISASI KEBUTUHAN TRENDING

Kemenhan Tandatangani Kontrak Pengadaan 24 Unit Drone Serang Elang Hitam untuk TNI AU

Kemenhan Tandatangani Kontrak Pengadaan 24 Unit Drone Serang Elang Hitam untuk TNI AU

Kemenhan menandatangani kontrak 24 unit drone serang Elang Hitam senilai 1,2 triliun rupiah dengan skema offset transfer teknologi. Drone ini memiliki daya tahan 36 jam, muatan 1 ton, dan sistem avionik terintegrasi dengan jaringan tempur TNI. Pengiriman mulai 2027 untuk memperkuat pertahanan di Natuna dan Papua sekaligus mendorong kemandirian industri pertahanan nasional.

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia resmi menandatangani kontrak strategis pengadaan 24 unit drone serang kelas MALE (Medium Altitude Long Endurance) Elang Hitam untuk memperkuat sayap udara TNI AU. Pengadaan alutsista ini merupakan hasil kolaborasi antara BAE Systems dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan nilai kontrak mencapai 1,2 triliun rupiah, mencakup skema offset transfer teknologi yang dirancang untuk mempercepat kemandirian industri pertahanan nasional. Seluruh unit direncanakan mulai dikirimkan pada kuartal I tahun 2027 dan akan ditempatkan di pangkalan udara taktis di Natuna dan Papua, dua titik strategis dalam pertahanan udara nasional.

Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Tempur Elang Hitam

Elang Hitam dirancang sebagai platform serang presisi dengan daya tahan terbang hingga 36 jam tanpa pengisian bahan bakar. Muatan senjata maksimal mencapai 1 ton, memungkinkan integrasi berbagai jenis amunisi pintar, rudal udara-ke-darat, dan pod pengintai. Sistem avionik terintegrasi penuh dengan jaringan tempur network-centric warfare TNI, yang memungkinkan pertukaran data real-time dengan radar darat dan sistem rudal pertahanan udara nasional.

  • Daya tahan terbang: 36 jam operasi kontinu
  • Muatan senjata: 1.000 kg (1 ton)
  • Kolaborasi pengembangan: BAE Systems dan PT Dirgantara Indonesia
  • Skema pengadaan: Offset transfer teknologi untuk peningkatan kapasitas produksi dalam negeri
  • Jaringan tempur: Integrasi avionik dengan sistem C4ISR nasional

Strategi Deploymen dan Dampak Industri

Penempatan skuadron Elang Hitam di Natuna dan Papua menegaskan prioritas pertahanan di wilayah perbatasan laut dan darat yang rawan. Kepala Badan Sarana Pertahanan menekankan bahwa interoperabilitas dengan sistem radar dan rudal pertahanan udara merupakan syarat mutlak untuk membangun kill chain yang efektif. Dari sisi industri, skema offset tidak hanya mentransfer teknologi avionik dan propulsi, tetapi juga membuka jalur produksi komponen lokal di PT DI, yang diproyeksikan dapat menekan biaya perawatan hingga 30% dalam jangka panjang.

Keberhasilan program drone serang Elang Hitam ini menjadi batu loncatan bagi pengembangan kendaraan udara tempur nirawak (UCAV) generasi berikutnya buatan dalam negeri. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah segera mempersiapkan alih teknologi material komposit, sistem kendali misi otonom, dan integrasi data link satelit agar Indonesia tidak hanya menjadi perakit, tetapi juga perancang utama platform pengadaan alutsista masa depan.

drone serang|elang hitam|pengadaan alutsista
ENTITAS TERKAIT
Topik: Pengadaan Drone Serang Elang Hitam
Organisasi: Kementerian Pertahanan RI, BAE Systems, PT Dirgantara Indonesia, TNI AU, Badan Sarana Pertahanan
Lokasi: Natuna, Papua
ARTIKEL TERKAIT