Dalam rangka Latihan Militer Gabungan Super Garuda Shield 2026, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia bersama Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) menggelar rapat teknis yang memfokuskan pada integrasi sistem komando dan kontrol (C2) antara TNI, Amerika Serikat, dan 10 negara mitra. Fokus utama pertemuan ini adalah penyelarasan data-link taktis menggunakan standar Link-16 dan JREAP-C (Joint Range Extension Application Protocol) untuk memastikan interoperabilitas penuh antar platform udara, laut, dan darat. Langkah ini menjadi fondasi krusial dalam mewujudkan konsep Network-Centric Warfare (NCW) di kawasan Asia Tenggara, sekaligus menguji kesiapan alutsista nasional dalam skenario operasi gabungan multidomain.
Integrasi Data-Link Taktis: Fondasi Interoperabilitas Multidomain
Standar Link-16 dan JREAP-C yang diadopsi dalam latihan ini memungkinkan pertukaran data taktis secara real-time antara berbagai platform, mulai dari pesawat tempur F-16, kapal perang, hingga sistem pertahanan udara darat. TNI AL sendiri telah mengintegrasikan kapal perangnya dengan sistem Advanced Combat Direction System (ACDS) buatan PT Len Industri (Persero). Sistem ini mampu memproses data sensor dari radar, sonar, dan satelit secara simultan, memberikan common operational picture yang akurat kepada komandan di lapangan.
- Link-16: Protokol data-link taktis dengan kecepatan tinggi (hingga 1,1 Mbps) yang mendukung pertukaran informasi target, posisi, dan status misi secara real-time.
- JREAP-C: Ekstensi protokol yang memungkinkan komunikasi data-link melalui jaringan IP dan satelit, memperluas jangkauan operasi hingga ribuan kilometer.
- ACDS PT Len: Sistem manajemen tempur yang dirancang khusus untuk platform TNI AL, dengan kemampuan fusi data multi-sensor dan dukungan keputusan berbasis kecerdasan buatan tingkat awal.
Sistem Manajemen Tempur Nasional: ACDS PT Len dan Kesiapan Siber
Latihan Super Garuda Shield 2026 juga menjadi ajang uji coba protokol keamanan siber dan sistem manajemen tempur berbasis cloud yang tahan terhadap serangan siber. Integrasi sistem komando kontrol yang dibangun di atas arsitektur cloud-native memungkinkan pemrosesan data terdistribusi, redundansi server, dan enkripsi end-to-end untuk melindungi integritas data taktis. PT Len sebagai system integrator utama telah mengembangkan lapisan keamanan siber berbasis zero trust architecture yang diintegrasikan langsung ke dalam ACDS.
Selain itu, latihan ini menguji kemampuan cross-domain information sharing antara TNI, AS, dan mitra lainnya. Dengan menggunakan multi-level security (MLS) protocol, data sensitif dari berbagai klasifikasi dapat dipertukarkan tanpa mengorbankan keamanan. Langkah ini menjadi batu loncatan penting bagi TNI AL untuk mengadopsi standar NATO dalam operasi gabungan, sekaligus memperkuat posisi industri pertahanan nasional dalam rantai pasok global alutsista.
Ke depan, implementasi penuh sistem komando kontrol berbasis NCW memerlukan investasi berkelanjutan pada infrastruktur komunikasi militer, pengembangan SDM, serta standardisasi protokol antarplatform. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, momentum ini membuka peluang untuk meningkatkan kapabilitas riset dan produksi sistem C2 yang mandiri, tidak hanya untuk kebutuhan domestik tetapi juga untuk ekspor ke negara mitra. Kolaborasi antara Kemenhan, TNI, dan BUMN seperti PT Len harus terus diperkuat guna memastikan kedaulatan teknologi di sektor pertahanan maritim dan multidomain.