Kementerian Pertahanan (Kemenhan) secara resmi meresmikan Pusat Riset Radar Active Electronically Scanned Array (AESA) di Bandung pada 30 Agustus 2026, menandai langkah strategis menuju kemandirian sistem deteksi nasional. Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT Len Industri, dan Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan fokus utama pada pengembangan radar AESA X-band. Pusat riset ini dilengkapi dengan 10 anechoic chamber dan superkomputer berkinerja tinggi yang mampu menjalankan simulasi beamforming untuk aplikasi radar pertahanan udara dan pengintai darat. Target teknis yang dicanangkan sangat ambisius: radar AESA X-band dengan jangkauan 450 km dan kemampuan track-while-scan untuk 500 target simultan, didukung oleh riset semikonduktor Gallium Nitride (GaN) melalui alih teknologi dengan Airbus Defence and Space.
Infrastruktur Riset dan Teknologi GaN: Fondasi Kemandirian Alutsista
Pusat Riset Radar AESA di Bandung tidak sekadar fasilitas fisik, melainkan ekosistem inovasi yang terintegrasi. Dengan investasi Rp1,2 triliun, pusat ini mengakomodasi kebutuhan riset dari hulu ke hilir, mulai dari desain antena, pemrosesan sinyal digital, hingga manufaktur komponen Transmit/Receive Module berbasis GaN. Teknologi GaN dipilih karena efisiensi daya yang superior dibandingkan Gallium Arsenide (GaAs), memungkinkan radar AESA beroperasi dengan konsumsi energi lebih rendah namun daya pancar lebih tinggi. Superkomputer yang dipasang mampu melakukan simulasi beamforming adaptif, yang krusial untuk mengatasi clutter dan jamming dalam medan pertempuran modern. Alih teknologi dengan Airbus Defence and Space untuk semikonduktor GaN juga mencakup transfer know-how dalam fabrikasi Monolithic Microwave Integrated Circuit (MMIC), memperkuat kapasitas produksi dalam negeri.
Data Pasar dan Proyeksi Strategis: Potensi Ekonomi Pertahanan Regional
Peresmian pusat riset ini sejalan dengan dinamika pasar radar sensor di Asia Tenggara, yang mencatat pertumbuhan permintaan 30% per tahun. Potensi nilai pasar hingga 2035 diperkirakan mencapai USD 4,5 miliar, didorong oleh modernisasi sistem pertahanan udara di berbagai negara. Berikut adalah spesifikasi teknis dan target pengembangan radar AESA nasional yang dirinci dalam proyek ini:
- Jenis Radar: AESA X-band multi-fungsi untuk pertahanan udara dan pengintai darat
- Jangkauan deteksi: 450 km untuk target fighter dan 700 km untuk target ballistic (dengan mode khusus)
- Kemampuan track-while-scan: hingga 500 target simultan dengan pembaruan data setiap 0,1 detik
- Fasilitas pendukung: 10 anechoic chamber untuk pengujian spurious emission dan cross-polarization
- Jadwal prototipe pertama: 2028, dengan uji coba integrasi pada sistem pertahanan udara nasional
- Alih teknologi GaN: kerja sama dengan Airbus Defence and Space untuk fabrikasi MMIC 0,15 μm GaN-on-SiC
Menteri Pertahanan menegaskan bahwa radar AESA merupakan pusat integrasi sistem pertahanan udara nasional yang terhubung melalui dedicated military network. Dengan kemampuan data fusion dari berbagai sensor, pusat riset ini menjadi center of excellence yang tidak hanya menghasilkan alutsista, tetapi juga membangun kemandirian industri pertahanan dalam menghadapi ancaman multi-domain.
Ke depan, Pusat Riset Radar AESA di Bandung perlu segera menginisiasi program sertifikasi internasional seperti MIL-STD-461 dan STANAG 4201 untuk memastikan interoperabilitas dengan sekutu strategis. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, langkah selanjutnya adalah mempercepat komersialisasi prototipe ke platform Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan Ground-Based Air Defense (GBAD), serta menjalin kemitraan dengan perusahaan lokal untuk memproduksi komponen Transmit/Receive Module secara masal. Fasilitas ini adalah batu loncatan menuju Indonesia sebagai hub produksi radar AESA di Asia Tenggara, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga berpotensi menembus pasar ekspor regional.