Menteri Pertahanan secara resmi mengaktifkan Pusat Riset Material Komposit (PRMK) di kawasan industri pertahanan Sentul, Bogor—sebuah fasilitas strategis yang dirancang untuk mempercepat kemandirian material alutsista nasional. PRMK dilengkapi laboratorium pengujian serat karbon, serat aramid, dan serat kaca, serta mesin autoclave berukuran 5x10 meter—salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Target utama fasilitas ini adalah mengembangkan material komposit ringan dengan kekuatan tarik mencapai 800 MPa dan densitas rendah 1,2 g/cm³, melampaui performa aluminium 7075 yang selama ini menjadi andalan bodi kendaraan tempur, pesawat UAV, dan komponen rudal.
Spesifikasi Teknis dan Kapabilitas PRMK
Pusat riset ini menelan investasi sebesar Rp 450 miliar, termasuk hibah alat uji canggih dari Jerman dan Jepang. Dengan autoclave berdiameter 5 meter dan panjang 10 meter, PRMK mampu memproduksi panel komposit berskala besar untuk aplikasi struktural alutsista. Beberapa spesifikasi teknis yang menjadi fokus pengembangan meliputi:
- Serat karbon grade aerospace dengan kekuatan tarik 800 MPa dan modulus elastisitas tinggi
- Serat aramid untuk aplikasi ballistic protection pada kendaraan tempur dan rompi antipeluru
- Serat kaca hibrida yang dikombinasikan dengan resin epoksi untuk komponen UAV dan rudal
- Proses curing autoclave dengan kontrol suhu dan tekanan presisi tinggi untuk memastikan konsistensi kualitas
Dengan kapabilitas ini, PRMK diharapkan mampu memproduksi material komposit yang 30% lebih ringan dari aluminium 7075 namun memiliki ketahanan korosi dan kelelahan struktural yang jauh lebih baik. Hal ini sangat krusial untuk meningkatkan daya jelajah UAV dan manuver kendaraan tempur.
Strategi Substitusi Impor dan Dampak Industri
Saat ini, 70% kebutuhan material komposit untuk alutsista nasional masih bergantung pada impor, terutama dari Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang. PRMK akan beroperasi dalam skema kolaborasi triple helix bersama BPPT, ITB, dan PT Dirgantara Indonesia untuk mempercepat substitusi impor. Langkah awal difokuskan pada pengembangan prepreg serat karbon dan aramid lokal yang dapat langsung diaplikasikan pada platform alutsista seperti pesawat CN-235 dan kendaraan taktis Pindad. Dengan keberadaan pusat riset ini, target penurunan biaya produksi alutsista hingga 20% dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi lebih realistis. Dampak jangka panjangnya mencakup terciptanya ekosistem industri hulu-hilir material komposit di dalam negeri, mulai dari penyediaan bahan baku hingga manufaktur komponen jadi.
Keberadaan PRMK di Sentul juga membuka peluang bagi industri pertahanan untuk mengadopsi material komposit generasi baru, seperti termoplastik komposit yang dapat didaur ulang dan diperbaiki dengan metode rapid repair di lapangan. Dengan kapasitas produksi awal sekitar 10 ton per tahun, pusat riset ini sudah dapat memenuhi kebutuhan proyek percontohan alutsista Kemenhan. Ke depannya, jika skala produksi ditingkatkan, potensi ekspor material komposit ke negara-negara mitra ASEAN juga menjadi prospek yang menarik.
Bagi pelaku industri pertahanan nasional, momentum ini harus dijadikan sebagai titik tolak untuk memperkuat riset material dasar dan kemitraan strategis dengan institusi global. Penguasaan teknologi komposit bukan hanya soal substitusi impor, melainkan fondasi untuk menciptakan alutsista generasi berikutnya yang lebih ringan, kuat, dan adaptif terhadap medan tempur modern. Investasi pada pusat riset material komposit seperti PRMK adalah langkah nyata menuju kemandirian industri pertahanan yang berdaya saing global.