Menteri Pertahanan meresmikan pabrik propelan dan bahan peledak di kawasan industri pertahanan Gresik, Jawa Timur, awal pekan ini. Fasilitas yang dibangun oleh PT Dahana (Persero) ini mengusung kapasitas produksi 5.000 ton per tahun untuk berbagai kaliber amunisi dan roket. Teknologi andalan yang diterapkan adalah continuous mixing dengan sistem kontrol otomatis berbasis PLC, yang memungkinkan produksi propelan triple-base—komposisi nitrogliserin, nitroselulosa, dan stabilizer khusus—menghasilkan stabilitas termal dan daya dorong tinggi. Langkah ini menjadi pilar utama dalam strategi kemandirian industri pertahanan nasional, mengingat selama ini Indonesia masih mengimpor hingga 70% bahan baku amunisi. Dengan beroperasinya pabrik ini, rantai pasok dalam negeri diperkuat secara signifikan, sekaligus meningkatkan kapabilitas produksi alutsista secara mandiri.
Spesifikasi Teknis dan Kapabilitas Produksi Pabrik Propelan Gresik
Pabrik propelan dan bahan peledak di Gresik dirancang dengan standar industri pertahanan global. Teknologi continuous mixing yang diadopsi mampu menghasilkan propelan triple-base dengan karakteristik pembakaran seragam serta daya dorong optimal untuk amunisi kaliber besar dan roket taktis. Berikut spesifikasi teknis utama fasilitas ini:
- Kapasitas produksi: 5.000 ton per tahun untuk propelan dan bahan peledak
- Teknologi: Continuous mixing dengan sistem kontrol otomatis berbasis PLC
- Jenis propelan: Triple-base (nitrogliserin, nitroselulosa, stabilizer) untuk stabilitas tinggi pada berbagai suhu operasi
- Produk akhir: Propelan untuk amunisi kaliber 5,56 mm hingga 155 mm, serta roket taktis
- Sertifikasi: Sesuai standar NATO dan SNI industri pertahanan
Dengan spesifikasi tersebut, pabrik ini menjadi salah satu yang paling modern di Asia Tenggara, mampu memproduksi propelan dalam jumlah besar dengan kualitas konsisten. Keberadaannya juga mendukung program pengembangan roket dan rudal nasional yang membutuhkan bahan bakar padat berkinerja tinggi, sekaligus menekan ketergantungan impor yang selama ini mencapai 70%.
Dampak Strategis terhadap Kemandirian Industri Pertahanan Nasional
Pengoperasian pabrik ini menandai lompatan besar dalam upaya kemandirian alutsista. Sebelumnya, Indonesia sangat bergantung pada impor propelan dan bahan peledak, terutama dari Eropa dan Amerika Serikat. Dengan kapasitas 5.000 ton per tahun, pabrik ini diperkirakan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan propelan untuk amunisi TNI AD, AU, dan AL, serta mendukung produksi roket dan rudal dalam negeri. Langkah ini sejalan dengan kebijakan kemandirian industri pertahanan yang menargetkan pengurangan impor bahan baku amunisi hingga 50% dalam lima tahun ke depan.
Tidak hanya itu, pabrik ini juga membuka peluang kerja sama dengan industri pertahanan swasta nasional, seperti PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia, untuk mengintegrasikan rantai pasok propelan ke dalam sistem senjata buatan dalam negeri. Integrasi ini akan mempercepat proses produksi alutsista, mulai dari amunisi infanteri hingga roket dan rudal taktis. Dengan demikian, kemandirian industri pertahanan nasional tidak hanya terwujud dalam perakitan, tetapi juga dalam penguasaan bahan baku strategis seperti propelan.
Ke depan, pabrik ini perlu didukung oleh investasi riset dan pengembangan (R&D) untuk menciptakan varian propelan dengan performa lebih tinggi, seperti propelan composite untuk rudal jarak jauh. Kolaborasi dengan lembaga riset dan universitas menjadi kunci untuk memperkuat inovasi. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah segera memanfaatkan kapasitas pabrik ini untuk mengembangkan produk amunisi ekspor, sehingga memperluas pasar dan meningkatkan daya saing global. Dengan fondasi ini, Indonesia berpotensi menjadi hub produksi propelan di Asia Tenggara pada dekade mendatang.