Dalam langkah strategis memperkuat pertahanan udara nasional, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) bersama holding BUMN pertahanan Defend ID resmi menandatangani kontrak pengadaan 12 unit radar 3D mobile untuk Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Radar ini, yang dikembangkan oleh PT Len Industri, mengusung teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA) yang canggih, mampu mendeteksi target siluman pada jarak 450 kilometer dan ketinggian 30 kilometer. Kontrak senilai Rp 1,8 triliun ini menandai komitmen pemerintah dalam mengoptimalkan alutsista berbasis industri dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 72%.
Spesifikasi Teknis dan Integrasi Sistem Pertahanan Udara
Radar 3D mobile ini dirancang untuk menghadapi ancaman udara modern, termasuk pesawat siluman dan rudal jelajah. Dengan teknologi AESA, radar ini menawarkan kemampuan deteksi multi-target yang superior dan resistensi terhadap gangguan elektronik. Sistem ini terintegrasi penuh dengan jaringan komando dan kontrol (Kodal) nasional, memungkinkan pertukaran data secara real-time dengan pusat operasi pertahanan udara. Keunggulan operasional lainnya adalah kemampuannya untuk dioperasikan dalam kondisi bergerak dengan waktu set-up kurang dari 15 menit, menjadikannya aset vital untuk pertahanan wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar.
- Spesifikasi Teknis Utama:
- Teknologi AESA untuk deteksi target siluman pada jarak 450 km dan ketinggian 30 km.
- Integrasi dengan jaringan Kodal nasional untuk respons cepat.
- Mobilitas tinggi dengan waktu set-up < 15 menit.
- TKDN 72%, mendukung kemandirian industri pertahanan.
Dampak Strategis dan Dukungan terhadap Kemandirian Industri
Proyek pengadaan radar ini merupakan bagian dari strategi optimalisasi kebutuhan alutsista yang berbasis industri dalam negeri. Dengan menggantikan radar lama buatan era 1980-an, radar 3D mobile ini akan secara signifikan meningkatkan kemampuan deteksi dan respons Kohanudnas terhadap ancaman udara. Inisiatif ini juga mendorong transfer teknologi dan pengembangan kapasitas PT Len Industri sebagai integrator sistem pertahanan nasional. Keberhasilan proyek ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengadaan alutsista lainnya, memperkuat ekosistem industri pertahanan Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Outlook teknologi ke depan, pengembangan radar berbasis AESA dengan kemampuan anti-stealth dan integrasi AI akan menjadi tren dominan di industri pertahanan global. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, rekomendasi strategis adalah untuk terus berinvestasi dalam riset dan pengembangan radar multifungsi, memperkuat kemitraan dengan institusi riset, dan mempersiapkan infrastruktur produksi massal. Dengan fondasi yang kokoh dari proyek ini, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemain kunci dalam pasar radar pertahanan regional, khususnya di kawasan Asia Tenggara.