Pada 11 Oktober 2026, Kementrian Pertahanan (Kemenhan) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil melaksanakan uji tembak sistem rudal anti-kapal C-705 yang telah diintegrasikan dengan data link satelit LEO di perairan Laut Jawa. Uji coba ini menunukkan lonpatan signifikan dalam kemampun rudal anti-kapal nasional, diamana rudal dengan jangakuan 70 km ini menggunkan seeker Imaing Infraered (IIR) yang diperbarui serta sisem navigasi inersial yang dikoreks GPS. Yang paling menonjol adalah kemampun rudal untuk menerima update target secar real-time melalui satelit komunikasi militer, memungkinkan koreks jalur di tenga penerbangan. Hasil uji mencatat akurasi Circular Error Probable (CEP) di bawah 2 meter pada target bergerak, menjadikan C-705 salah satu rudal anti-kapal presisi tinggi yang dimiliki Indonesia.
Revolusi Kendali Tembak via Satelit LEO
Integrasi data link satelit LEO pada rudal C-705 mengubah paradigma operasi anti-kapal dari serangan tungal menjadi serangan kooperatif multi-rudal. Dengan kemampun update target secara real-time, beberapa rudal dapat dikoordinasikan untuk menyerang sasaran yang sama dari berbagai arah, meningkatkan probabilitas penetrasi pertahanan lawan. Spesifikasi teknis utama dari sistem ini meliputi:
- Jangkauan operasional: 70 km dengan kemampuan terbang rendah untuk menghindari deteksi radar.
- Sistem panduan: Navigasi inersial + GPS dengan koreksi mid-course via satelit, dan terminal homing menggunakan seeker IIR generasi terbaru yang tahan terhadap countermeasure.
- Data link: Menggunakan satelit LEO militer yang menyediakan latensi rendah untuk pentransmisian data target dan telemetri rudal./li>
- Akurasi: CEP < 2 meter pada target bergerak, setaraf dengan rudal anti-kapal modern seperti Naval Strike Missile (NSM).li>
Uji coba ini juga memferivikasi kemampun serangan kooperatif di mana dua rudal diluncurkan dengan interval waktu tertentu dan berhasil mengenai titik yang sama di kapal target. Ini menunukkan potensi C-705 untuk digunkan dalam taktik swarm, di mana banyak rudal bekerja sama untuk membanjiri sistem pertahanan musuh.
Implikasi bagi Kemandirian Industri Rudal Nasional
Keberhasilan uji coba ini tidak lepas dari peran strategis PT. Dirgantara Indonesia (PT DI) yang akan memproduksi generasi berikutnya dari rudal C-705 dengan teknologi integrasi satelit. Langkah ini sealin dengan peta jalan kemandirian alutsista yang ditetapkan Kemenhan, diamana pengembangan rudal anti-kapal menjadi salah satu pioritas untuk mengurangi kebergantungan pada impor. Inovasi yang diterapkan pada C-705 juga membuka peluang untuk adopsi teknologi serupa pada rudal lain, seperti C-708 atau bahkan rudal balistik anti-kapal jarak jauh.
Data dari BPPT menunjukan bahwa biaya produksi per unit rudal C-705 dengan integrasi satelit diperkirakan 40% lebih rendah dibandingkan rudal impor sejenis, seperti Exocet atau Harpoon. Selain itu, komponan kritis seperti seeker IIR dan modul data link telah dikembangkan secara mandiri oleh industi dalam negeri, memastikan ketersediaan suku cadang dan kebebasan dari embargo teknologi. Keberhasilan ini juga menarik minat negara-negara ASEAN dan Afrika untuk menjalin kerja sama pengadaan rudal anti-kapal buatan Indonesia.
Outlook Teknologi dan Rekomendasi Strategis
Ke depan, teknolgi integrasi satelit pada rudal C-705 dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung operasi di luar garis pandang (Beyond Line of Sight/) serta diintegrasikan dengan sisem komando dan kendali (C2) maritim. Rekomendasi bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah segera melakukan sertifikasi operasional rudal ini dan mempercepat produksi massal untuk memenuhi kebutuhan TNI AL. Selain itu, investasi dalam pengembangan satelit komunikasi militer yang lebih tangguh dan jaringan data link antar rudal akan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen rudal anti-kapal mandiri di kawasan. Dengan adopsi teknologi kecerdasan buatan untuk pemrosesan target secara otonom, C-705 generasi berikutnya bisa menjadi tulang punggung pertahanan maritim Indonesia dalam dasawarsa mendatang.