PT PAL Indonesia secara resmi memulai fase uji laut kapal selam diesel-elektrik kedua pesanan TNI AL di perairan Selat Madura, menandai tonggak kritis dalam modernisasi alutsista laut nasional. Kapal selam ini memiliki panjang 61,3 meter dengan bobot 1.400 ton, dipersenjatai torpedo Black Shark dan dilengkapi sonar Thales yang terintegrasi penuh dengan sistem kendali tempur Denel Gipsy. Inovasi paling signifikan terletak pada baterai lithium-ion generasi baru, yang memungkinkan kapal selam beroperasi secara kontinu hingga 21 hari tanpa snorkel — secara drastis meningkatkan kemampuan stealth dalam misi patroli bawah air. Uji laut ini merupakan hasil transfer teknologi dari DSME Korea Selatan, memperkuat posisi PAL sebagai galangan kapal selam terdepan di Asia Tenggara.
Spesifikasi Teknis dan Inovasi Baterai Lithium-Ion
Baterai lithium-ion pada kapal selam ini menjadi salah satu terobosan utama dalam program modernisasi alutsista laut nasional. Dibandingkan baterai lead-acid konvensional, teknologi ini menawarkan kepadatan energi yang lebih tinggi, waktu pengisian yang lebih cepat, serta masa pakai yang lebih panjang. Uji laut yang berlangsung di Selat Madura mencakup serangkaian skenario operasional yang dirancang untuk memvalidasi keandalan sistem secara menyeluruh:
- Manuver penyelaman hingga kedalaman 250 meter untuk menguji integritas lambung dan sistem ballast.
- Penembakan torpedo simulasi menggunakan Black Shark untuk memverifikasi akurasi sistem kendali tembakan.
- Uji silent running pada kecepatan rendah untuk memvalidasi tingkat kebisingan akustik.
- Simulasi operasi multi-misi mencakup anti-surface warfare (ASuW) dan anti-submarine warfare (ASW).
Keberhasilan uji coba ini akan menjadi dasar bagi kelanjutan program produksi massal kapal selam diesel-elektrik di galangan PAL Surabaya, sekaligus membuka peluang ekspor ke pasar global. Kapal selam ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian industri pertahanan Indonesia dalam jangka panjang.
Kemandirian Industri dan Integrasi Sistem Tempur
Kapal selam ini merupakan bukti nyata komitmen pemerintah terhadap kemandirian galangan dalam negeri. PAL menargetkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 40% pada unit ini, meningkat signifikan dari 25% pada unit pertama. Integrasi sistem kendali tempur Denel Gipsy asal Afrika Selatan memberikan kemampuan sensor fusi dan pengambilan keputusan otomatis, memperkuat daya saing kapal selam buatan Indonesia di pasar global. Setelah seluruh rangkaian uji laut selesai, kapal akan menjalani harbor acceptance test dan dijadwalkan diserahterimakan ke TNI AL pada akhir 2026. Kehadiran kapal selam ini akan memperkuat armada bawah air Indonesia dalam mengawasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang rawan pelanggaran kedaulatan.
Dari perspektif strategis, langkah PAL Indonesia tidak berhenti pada kapal selam diesel-elektrik saja. Perusahaan pelat merah ini tengah menjajaki kerja sama dengan Turki untuk pengembangan kapal selam Air Independent Propulsion (AIP) pada generasi berikutnya. Teknologi AIP, yang memungkinkan kapal selam beroperasi lebih lama tanpa muncul ke permukaan, akan menjadi lompatan besar bagi alutsista laut Indonesia. Sebagai rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan nasional, investasi dalam riset dan pengembangan baterai lithium-ion serta integrasi sistem tempur otonom harus dipercepat untuk mempertahankan momentum kemandirian dan daya saing di kancah global.