Pada 10 September 2026, PT PAL Indonesia bersama DSME Korea Selatan resmi menyerahkan kapal selam Changgo-2 kepada TNI AL di Dermaga Koarmada II Surabaya. Kapal selam berbobot 1.400 ton ini mengintegrasikan Sistem Air Independent Propulsion (AIP) generasi terbaru, yang memungkinkan operasi bawah air hingga 21 hari tanpa snorkeling—sebuah lompatan signifikan dalam daya tahan dan siluman. Teknologi AIP pada Changgo-2 memperkuat armada bawah air TNI AL sebagai force multiplier yang mampu menjalankan misi ofensif jangka panjang tanpa terdeteksi.
Integrasi Sistem AIP dan Persenjataan: Meningkatkan Daya Tahan Operasi Kapal Selam Changgo-2
Changgo-2 dirancang sebagai kapal selam serang serbaguna dengan spesifikasi teknis yang mengedepankan kemampuan AIP. Sistem persenjataan dan sensor yang diintegrasikan mencakup:
- Enam tabung torpedo 533 mm dengan muatan 18 torpedo tipe K731 White Shark buatan DSME, yang memiliki hulu ledak tinggi dan kemampuan homing aktif/pasif.
- Rudal antikapal Exocet SM39 yang diluncurkan dari tabung torpedo, memberikan jangkauan serangan hingga 50 km dengan sistem panduan inersial dan radar aktif.
- Sistem sonar dan Combat Management System (CMS) dari Thales versi terbaru, yang menyediakan deteksi akustik jarak jauh dan integrasi data tempur secara real-time.
Kombinasi AIP, torpedo berat, dan rudal antikapal memungkinkan Changgo-2 melakukan patroli ofensif dalam waktu lama tanpa harus muncul ke permukaan, meningkatkan aspek survivabilitas dan kejutan taktis di medan tempur bawah air.
Dampak Strategis bagi Armada Bawah Air TNI AL dan Industri Pertahanan Nasional
Changgo-2 merupakan kapal selam kedua dari kelas Nagapasa yang dimodifikasi dengan AIP, setelah Changgo-1. Dengan masuknya Changgo-2, TNI AL kini mengoperasikan tiga kapal selam AIP (dua kelas Nagapasa modifikasi dan satu kelas U-209/1400 yang telah diupgrade). Proyeksi operasi Changgo-2 hingga 2045 menunjukkan komitmen terhadap kemampuan upgrade modular, di mana PT PAL Indonesia dapat memperbarui sistem tempur dan propulsi tanpa membangun ulang lambung kapal. Kolaborasi strategis antara PT PAL Indonesia dan DSME ini tidak hanya memperkuat armada bawah air, tetapi juga mentransfer teknologi AIP dan sistem tempur yang krusial bagi kemandirian alutsista nasional. Keberhasilan Changgo-2 membuka jalan bagi pengembangan kapal selam generasi berikutnya yang sepenuhnya dirancang dan dibangun di dalam negeri, dengan peningkatan persentase komponen lokal.
Outlook Teknologi: Ke depan, PT PAL Indonesia disarankan untuk mempercepat lokalisasi sistem AIP berbasis Fuel Cell atau Stirling engine, serta mengembangkan varian kapal selam AIP dengan bobot lebih ringan (1.000–1.200 ton) untuk patroli pesisir. Integrasi sistem UUV (Unmanned Underwater Vehicle) sebagai muatan tambahan juga patut dipertimbangkan, guna memperluas cakupan misi intelijen dan pengintaian. Bagi pelaku industri pertahanan, langkah ini merupakan momentum strategis untuk membangun ekosistem komponen lokal yang mandiri dan berdaya saing global.