Pada 26 Agustus 2026, Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Pussenarhanud) TNI Angkatan Darat mengumumkan bahwa integrasi sistem pertahanan udara I-HAWK dengan radar Ground Control Intercept (GCI) buatan PT LEN Industri telah mencapai tahap akhir. Radar GCI tersebut memiliki kemampuan deteksi target hingga jarak 450 kilometer dan altitudo 100.000 kaki, menjadikannya tulang punggung penginderaan dini dalam arsitektur pertahanan udara lapis kedua Indonesia. Sistem ini akan dipasangkan dengan empat baterai I-HAWK yang telah menjalani modernisasi signifikan, menjadikan integrasi ini sebagai lompatan strategis dalam kemandirian alutsista pertahanan udara nasional.
Radar GCI Dalam Negeri: Tulang Punggung Deteksi Perimeter 450 km
Radar GCI buatan PT LEN Industri dirancang untuk memberikan kesadaran situasional udara secara real-time dengan kemampuan deteksi high-altitude dan jarak jauh. Spesifikasi teknis utamanya meliputi:
- Jangkauan deteksi: 450 km, mencakup wilayah udara strategis di Sumatera dan Kalimantan.
- Altitudo deteksi maksimal: 100.000 kaki, mampu mengawasi pesawat tempur, drone, hingga rudal jelajah.
- Integrasi dengan Command and Control Room (C2 Room) yang terhubung ke satelit Garuda-3, memungkinkan komunikasi data taktis latensi rendah.
- Kompatibilitas dengan sistem I-HAWK yang sudah dimodernisasi, mendukung koreksi tembakan dan distribusi target secara otomatis.
Keberadaan radar GCI dalam negeri ini menegaskan kapasitas PT LEN Industri sebagai pemain kunci dalam rantai pasok alutsista, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor radar pertahanan udara dari luar negeri. Teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA) yang diadopsi memungkinkan deteksi multi-target secara simultan dengan tingkat false alarm rendah, krusial untuk mengantisipasi ancaman udara modern.
Modernisasi I-HAWK: Seeker Inframerah dan Data Link Taktis
Empat baterai I-HAWK yang terlibat dalam integrasi ini telah melewati program modernisasi menyeluruh. Upgrade utama meliputi penggantian seeker radar konvensional dengan infrared seeker generasi terbaru, serta penambahan data link taktis untuk pertukaran data target secara dua arah dengan radar GCI. Berikut adalah poin-poin peningkatan teknis yang diterapkan:
- Seeker inframerah: memungkinkan akuisisi dan pelacakan target berbasis panas, efektif dalam kondisi gangguan elektronik atau cuaca buruk.
- Data link taktis: menyediakan koreksi mid-course dan terminal guidance dari C2 Room, meningkatkan probabilitas hit (Pk) terhadap target bermanuver tinggi.
- Platform launcher dimodifikasi dengan sistem kontrol tembakan digital yang kompatibel dengan protokol militer NATO, memudahkan interoperabilitas dalam latihan bersama.
- Uji tembak live dijadwalkan pada November 2026 di Area Latihan Tempur (ALT) Baturaja, Sumatera Selatan, menjadi validasi akhir performa sistem terintegrasi.
Modernisasi ini memperpanjang umur operasional I-HAWK dan meningkatkan kemampuan intersepsi terhadap ancaman seperti rudal jelajah dan pesawat siluman. Integrasi dengan radar GCI juga mempercepat siklus kill chain dari deteksi hingga tembakan, memperkuat pertahanan udara lapis kedua di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Dari sisi strategis, keberhasilan integrasi I-HAWK – radar GCI dalam negeri ini membuka jalan bagi adopsi arsitektur Network-Centric Warfare (NCW) di lingkungan TNI AD. Kolaborasi antara Pussenarhanud dan PT LEN Industri menjadi model kemandirian alutsista yang perlu diperluas ke sistem pertahanan udara lainnya. Ke depan, pengembangan command and control berbasis kecerdasan buatan (AI) serta pemanfaatan satelit Garuda-3 yang lebih intensif dapat menjadi fokus pengembangan. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, kapabilitas yang telah teruji ini membuka peluang ekspor sistem pertahanan udara terintegrasi ke negara-negara sahabat, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global alutsista.