Pada 15 September 2026, Pusat Latihan Tempur Baturaja, Sumatera Selatan, menjadi saksi keberhasilan uji tembak integrasi sistem persenjataan udara yang sepenuhnya mengandalkan teknologi dalam negeri. Sebanyak empat unit drones armed Elang Hitang buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) berinteraksi secara real-time dengan sistem radar pasif yang dikembangkan oleh BPPT dan PT Len Industri, menghasilkan akurasi serangan 93% terhadap sasaran simulasi pada jarak 40 kilometer. Sistem ini menggunakan metode passive coherent location (PCL) yang memanfaatkan sinyal siaran televisi dan radio sebagai iluminasi, sehingga drone mampu mendeteksi dan melacak target tanpa memancarkan radiasi elektromagnetik aktif—sebuah lompatan taktis dalam operasi siluman dan perang elektronik.
Teknologi Passive Coherent Location: Silent Detection untuk Superioritas Anti-Stealth
Radar pasif yang diuji dalam skema integrasi sistem ini mengandalkan prinsip PCL di mana sinyal ambient dari pemancar komersial (TV, radio FM, sinyal seluler) digunakan sebagai sumber penerangan. Dengan membandingkan sinyal langsung dari pemancar dan sinyal yang dipantulkan oleh target, sistem dapat menghitung posisi, kecepatan, dan lintasan objek secara pasif. Keunggulan utama dari pendekatan ini adalah ketidakmampuan musuh untuk mendeteksi atau mengacaukan radar karena tidak ada emisi aktif yang dipancarkan. Dalam konteks peperangan modern, kemampuan radar pasif ini secara langsung meningkatkan kapasitas TNI AU untuk menghadapi ancaman udara berteknologi siluman (stealth) yang dirancang menghindari radar konvensional. Data uji coba di Baturaja menunjukkan sensitivitas deteksi hingga ketinggian 10.000 kaki dengan resolusi sudut 1,2 derajat, menjadikannya solusi yang layak untuk cakupan pertahanan udara nasional.
- Metode PCL memanfaatkan infrastruktur siaran komersial yang sudah ada, mengurangi biaya pengadaan dan pemeliharaan.
- Kemampuan deteksi multi-target sinkron hingga 20 sasaran secara bersamaan tanpa degradasi performa.
- Kompatibilitas penuh dengan protokol data taktis TNI AU yang dikembangkan oleh PT Len Industri.
Integrasi Data Taktis: Fondasi Kemandirian Sishanudnas
Uji tembak ini bukan sekadar pembuktian teknis, melainkan tonggak strategis dalam program Sistem Pertahanan Udara Terintegrasi (Sishanudnas). Keberhasilan integrasi sistem antara drone bersenjata dan radar pasif menunjukkan bahwa ekosistem alutsista dalam negeri telah mencapai tingkat interoperabilitas yang memadai untuk membentuk jaringan komando dan kendali yang otonom. Rudal AG-100 dan roket berpemandu laser yang digunakan dalam uji tembak diproduksi oleh PT Pindad dan konsorsium riset nasional, memperkuat rantai pasok industri pertahanan dari hulu ke hilir. Lebih penting lagi, sistem ini beroperasi di atas jaringan data taktis buatan dalam negeri yang mampu mentransmisikan data target secara real-time dengan enkripsi militer, sehingga meniadakan ketergantungan pada node komunikasi impor yang rentan terhadap intervensi pihak ketiga. Hasil uji di Baturaja membuktikan bahwa kemandirian alutsista bukan lagi wacana, melainkan realitas operasional yang siap diimplementasikan.
Dari perspektif industri, integrasi ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut—misalnya perluasan platform drone yang dapat diintegrasikan dengan radar pasif varian baru, serta peningkatan jangkauan deteksi hingga 100 kilometer melalui pengoptimalan antena dan pemrosesan sinyal. Langkah berikutnya yang direkomendasikan bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah mempercepat program sertifikasi sistem secara keseluruhan di bawah pengawasan Badan Sarana Pertahanan (Baranahan), sekaligus memulai produksi massal untuk memenuhi kebutuhan tiga matra TNI. Dengan fondasi teknologi yang sudah teruji, Indonesia berpotensi menjadi salah satu dari sedikit negara yang mampu membangun sistem pertahanan udara pasif berbasis radar pasif dan drone secara mandiri—sebuah posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik yang memerlukan kedaulatan pertahanan yang tidak bergantung pada pemasok luar.