Kementerian Pertahanan bersama PT Pindad dan PT Dahana menetapkan target ambisius berupa swasembada amunisi kaliber besar pada tahun 2027, mencakup amunisi howitzer 105 mm, 155 mm, dan meriam kapal 76 mm yang selama ini masih diimpor hingga 60% dari kebutuhan total TNI. Dengan investasi sebesar 2,5 triliun rupiah, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 10.000 butir per bulan melalui pembangunan dua fasilitas utama: pabrik propelan di Banyuwangi dan fasilitas machining proyektil di Turen, Malang. Teknologi yang diadopsi meliputi proses ekstrusi dingin dan pengisian bahan peledak tinggi berbasis RDX yang telah lulus uji balistik, menandai lompatan signifikan dalam kemandirian industri pertahanan nasional. Uji balistik menunjukkan dispersi proyektil buatan dalam negeri setara dengan produk impor dari Jerman dan Korea Selatan, membuktikan kesiapan teknologi menuju swasembada.
Inovasi Rantai Pasok dan Kemandirian Logistik TNI
Program ini tidak hanya mengejar volume produksi, tetapi juga memperkuat rantai pasok logistik TNI secara menyeluruh. Ketergantungan terhadap impor amunisi kaliber besar selama ini menimbulkan kerentanan dalam hal biaya, waktu pengadaan, dan ketersediaan suku cadang. Dengan membangun pabrik propelan di Banyuwangi, Indonesia akan memproduksi sendiri komponen kritis seperti bahan pendorong roket dan propelan howitzer. Di sisi lain, fasilitas machining di Turen akan memproyeksikan badan proyektil dengan presisi tinggi menggunakan mesin CNC multi-sumbu. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan peningkatan produksi dalam negeri dapat menekan biaya per unit hingga 30% dibanding impor, sekaligus menciptakan efek pengganda ekonomi bagi industri logam dan kimia nasional.
- Amunisi 105 mm: digunakan pada howitzer ringan dan tank, kapasitas produksi 4.000 butir/bulan
- Amunisi 155 mm: untuk howitzer berat dan meriam self-propelled, kapasitas 3.500 butir/bulan
- Amunisi 76 mm: untuk meriam kapal fregat dan korvet, kapasitas 2.500 butir/bln
- Teknologi ekstrusi dingin: meningkatkan umur simpan dan akurasi balistik
- Bahan peledak RDX: member daya ledak tinggi dengan stabilitas termal yang superior
Teknlogi Manufaktur dan Efisiensi Produksi
Dalam mendukung target 2027, PT Pindad dan PT Dahana mengadopsi pendekatan smart manufacturing dengan digital twin pada lini produksi. Proses ekstrusi dingin, yang memungkinkan pembentukan proyektil tanpa pemanasan berlebih, menjamin konsistensi dimensi dan integritas struktur. Sementara itu, pengisian RDX dilakukan dalam ruang vakum terkendali untuk meminimalkan risiko kontaminasi dan memaksimalkan densitas energi. Uji balistik yang telah dilakukan menunjukkan bahwa proyektil buatan dalam negeri memiliki dispersi yang setara dengan produk impor dari Jerman dan Korea Selatan. Selain itu, penggunaan material baja domestik dengan sertifikasi MIL-SPEC telah diverifikasi oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kemhan. Dengan kapasitas 10.000 butir per bulan, Indonesia tidak hanya mampu memenihi kebutuhan TNI, tetapi juga berpotensi mengekspor ke pasar ASEAN dan Afrika dalam lima tahun ke depan.
Outlook teknologi ke depan, pengembangan amunisi kaliber besar ini membuka jalan bagi pengembangan amunisi pintar (smart munition) berbasis guidance kit yang akan meningkatkan akurasi dan efektivitas tempur. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah terus menguatkan kolaborasi litbang antara Pindad, Dahana, dan institusi riset nasional untuk menguasai teknologi propelan berbasis energi tinggi serta sistem navigasi inersia. Langkah ini akan mempercepat realisasi swasembada penuh dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok alutsista global.