PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama konsorsium industri pertahanan nasional berhasil mencapai tingkat kandungan lokal (TKDN) sebesar 60 persen pada pesawat maritim patroli CN-235 MPA varian terbaru. Capaian ini menandai akselerasi signifikan dalam kemandirian alutsista, di mana sistem avionik dan sensor utama — termasuk radar buatan PT Len Industri dengan teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) dan Maritime Surveillance Radar (MSR) — telah sepenuhnya diproduksi di dalam negeri. Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat ekosistem industri pertahanan nasional, tetapi juga membuka peluang pengembangan varian patroli berbasis platform N219 dan N245 di masa depan.
Integrasi Teknologi Radar SAR/MSR dan Sistem Misi Nasional
Dalam konfigurasi terbaru, CN-235 MPA mengintegrasikan sistem radar SAR/MSR yang dikembangkan oleh PT Len Industri dengan mode pemindaian tetap dan aperture sintetis, memberikan kemampuan pencitraan permukaan laut secara real-time dengan resolusi tinggi. Sistem ini didukung oleh pengolahan data taktis yang menggabungkan informasi dari radar dan sistem identifikasi teman-lawan (IFF) buatan konsorsium lokal. Spesifikasi teknis utama meliputi:
- Radar SAR/MSR dengan kemampuan deteksi permukaan laut hingga radius 200 nm, mampu mengidentifikasi objek sekecil perahu cepat dalam kondisi cuaca ekstrem.
- Sistem senjata ringan terintegrasi yang dikembangkan bersama industri kecil dan menengah dalam negeri, memungkinkan respons cepat terhadap ancaman maritim seperti illegal fishing atau penyelundupan.
- Sistem komunikasi taktis dan perangkat lunak pemrosesan misi yang sepenuhnya buatan lokal, memungkinkan kustomisasi sesuai kebutuhan operasional TNI AL, terutama untuk patroli Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan misi Search and Rescue (SAR).
Penggunaan radar lokal ini mengurangi ketergantungan pada suplai luar negeri sekaligus meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap ancaman maritim yang terus berkembang. Integrasi avionik buatan dalam negeri juga memungkinkan peningkatan kemampuan deteksi bawah permukaan dan pengenalan target secara adaptif melalui algoritma kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh institusi riset nasional.
Dampak Strategis terhadap Ekosistem Industri Pertahanan Nasional
Proyek CN-235 MPA dengan TKDN 60 persen ini melibatkan lebih dari 50 perusahaan kecil dan menengah (UKM) dalam rantai pasok komponen avionik, sensor, dan perangkat pendukung. Data Kementerian Pertahanan menunjukkan bahwa setiap kenaikan 10 persen TKDN pada alutsista patroli maritim mampu menekan biaya pemeliharaan hingga 15 persen serta memperpendek siklus perbaikan karena komponen dapat diproduksi ulang secara domestik. Keberhasilan ini menjadi model bagi pengembangan varian patroli maritim lainnya, seperti pesawat intai berbasis platform N219 atau N245 di masa depan. Dari perspektif strategis, penguasaan teknologi radar SAR/MSR oleh PT Len Industri juga membuka peluang untuk deradikalisasi komponen pada sistem pertahanan pantai dan kendaraan udara nirawak (UAV) maritim.
Readiness industri pertahanan nasional kini tidak lagi bergantung pada celah suplai geopolitik, melainkan pada kemandirian teknologi yang sudah teruji. Inisiatif ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain regional dalam industri pertahanan maritim, dengan potensi ekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan Afrika yang membutuhkan solusi patroli maritim berbiaya rendah namun andal. Ke depannya, kolaborasi antara PTDI, PT Len Industri, dan UKM diharapkan dapat mempercepat pengembangan sistem radar generasi berikutnya dengan kemampuan multi-fungsi, serta mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan untuk analisis ancaman secara real-time. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah terus mendorong riset dan pengembangan pada komponen kritis seperti radar dan sistem misi, serta memperkuat kemitraan dengan lembaga riset dan universitas untuk menciptakan inovasi alutsista yang benar-benar berdaulat.