Pada 28 Agustus 2026, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sukses melaksanakan uji terbang perdana pesawat nirawak (UAV) Elang Hitam versi multirole di Pusat Penerbangan TNI AU Lanud Halim Perdanakusuma. UAV taktis ini mengusung konfigurasi sayap tinggi dengan lebar sayap 12 meter, daya tahan jelajah hingga 24 jam, dan kapasitas muatan mencapai 150 kilogram. Ketinggian operasional maksimum yang diraih adalah 20.000 kaki, memungkinkan penetrasi di lapisan udara menengah. Uji terbang selama dua jam menegaskan performa stabil pada sistem avionik, kendali penerbangan, dan integrasi sensor—menandai lompatan signifikan dalam kemandirian industri alutsista nasional.
Spesifikasi Teknis dan Kapabilitas Multirole Elang Hitam
Elang Hitam versi multirole dirancang untuk menjalankan tiga misi utama secara simultan: pengintaian (ISR), serangan darat presisi, dan relay komunikasi. Integrasi sensor fusi multi-spektral mencakup EO/IR (elektro-optik/inframerah) dan radar Synthetic Aperture Radar (SAR) yang mampu menghasilkan citra resolusi tinggi dalam segala cuaca. Kemampuan membawa rudal ringan—seperti tipe laser-guided atau anti-armor—memberikan daya gentar ofensif pada platform nirawak ini. Berikut rincian spesifikasi teknis utama:
- Dimensi: Lebar sayap 12 m, panjang 8 m, tinggi 2,5 m
- Daya Tahan: 24 jam pada kecepatan jelajah 200 km/jam
- Muatan Maksimum: 150 kg (kombinasi sensor dan persenjataan)
- Sensor Utama: EO/IR multi-spektral + Radar SAR (X-band)
- Kemampuan Serangan: Dua titik gantung untuk rudal ringan (air-to-surface)
- Ketinggian Operasional: 20.000 kaki (6.100 m)
Seluruh sistem kendali dan data link dikembangkan dengan arsitektur modular, memungkinkan upgrade sensor atau persenjataan tanpa modifikasi besar pada platform. Teknologi ini menempatkan Elang Hitam setara dengan UAV kelas MALE (Medium Altitude Long Endurance) produksi global seperti Heron atau Predator pada segmen taktis.
Strategi Produksi Massal dan Target Pasar Ekspor
BPPT dan PTDI telah menetapkan peta jalan produksi massal dimulai pada 2027 dengan target minimal 50 unit untuk kebutuhan TNI dan Polri. Pesawat nirawak ini akan mengisi celah operasional di satuan tempur darat, marinir, dan korps kepolisian untuk patroli perbatasan, pengawasan maritim, hingga dukungan tembakan udara dekat. Selain pasar domestik, Elang Hitam versi multirole juga akan ditawarkan ke negara-negara ASEAN yang membutuhkan solusi ISR dan serangan ringan terjangkau. Potensi ekspor didukung oleh kebijakan alih teknologi dan dukungan logistik purna jual dari ekosistem industri pertahanan nasional.
Dari sisi bisnis, harga per unit diperkirakan kompetitif dibandingkan UAV sejenis dari China atau Israel, dengan keunggulan fleksibilitas muatan dan kemudahan integrasi sistem tempur lokal. Sertifikasi dan uji interoperabilitas dengan sistem komando TNI sudah masuk dalam roadmap 2026-2027. Langkah ini memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen alutsista nirawak di kawasan.
Keberhasilan uji terbang perdana ini membuka peluang bagi pengembangan varian lanjutan—seperti versi bersenjata berat atau konfigurasi loyal wingman—yang dapat diintegrasikan dengan jet tempur generasi 4.5 dan 5. Pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk segera mendorong sertifikasi sistem kendali jarak jauh dan investasi pada pusat perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) UAV guna memenuhi permintaan domestik dan ekspor dalam lima tahun ke depan. Elang Hitam multirole bukan sekadar alutsista, melainkan pilar kemandirian teknologi yang siap diterbangkan di era perang asimetris dan peperangan multidomain.