Dalam forum trilateral defense talks yang melibatkan Indonesia, Australia, dan Jepang, TNI AL menunjukkan minat teknis yang mendalam terhadap platform surface combatant terbaru Jepang, yaitu Upgraded Mogami-class atau New FFM. Kapal perang dengan displacement 5.500 ton ini mengusung konsep modular mission bay yang memungkinkan fleksibilitas operasional tinggi, didukung oleh integrated electric propulsion (IEP) system dan desain stealth dengan reduced radar cross-section (RCS). Kemampuan deployment untuk unmanned surface/underwater vehicle (USV/UUV) menjadi keunggulan utama yang sejalan dengan visi modernisasi alutsista berbasis otonomi. Diskusi teknis menyoroti potensi interoperabilitas antara sistem komunikasi satelit milik Jepang dan Australia dalam kerangka Indo-Pacific security architecture, membuka peluang integrasi sensor domestik seperti radar buatan PT LEN dan sistem sonar produksi dalam negeri.
Spesifikasi Teknis dan Potensi Interoperabilitas New FFM
Spesifikasi persenjataan New FFM mencakup 16-cell Mk 41 Vertical Launching System (VLS) untuk rudal surface-to-air, anti-ship missile Type 17, serta sistem close-in weapon system (CIWS) SeaRAM. Keunggulan modular electronics architecture memungkinkan adopsi sistem tempur dan sensor yang dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan TNI AL. Berikut rincian teknis utama yang menjadi fokus dalam trilateral forum:
- Displacement 5.500 ton dengan desain stealth untuk mengurangi RCS secara signifikan.
- Integrated electric propulsion (IEP) yang memberikan efisiensi energi dan silent operation.
- Flexible deck configuration untuk operasi USV/UUV, termasuk mine countermeasures dan ISR.
- 16-cell Mk 41 VLS untuk rudal permukaan-ke-udara jarak jauh.
- Sistem anti-ship missile Type 17 dengan kemampuan jelajah tinggi.
- CIWS SeaRAM untuk pertahanan point-defense terhadap serangan rudal.
Potensi interoperabilitas dengan sistem satelit komunikasi Jepang dan Australia memperkuat aspek maritime domain awareness di kawasan. Integrasi sensor domestik seperti radar array dan sonar aktif-pasif produksi PT LEN serta BPPT menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Skema potential acquisition yang dibahas mencakup package deal dengan transfer teknologi untuk composite material manufacturing dan integrated platform management system (IPMS).
Roadmap Kolaborasi dan Transfer Teknologi untuk Kemandirian Industri
Roadmap kolaborasi yang dirancang dalam trilateral defense talks mencakup joint development of unmanned systems untuk mission bay Mogami-class, termasuk pengembangan USV untuk mine countermeasures dan UUV untuk intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR). Selain itu, pembahasan menyentuh aspek data sharing untuk memperkuat maritime domain awareness dan standardisasi protocol untuk anti-submarine warfare (ASW) dalam menjaga sea lines of communication di kawasan Indo-Pasifik. Transfer teknologi menjadi pilar utama, terutama dalam penguasaan material komposit untuk lambung kapal dan sistem manajemen platform terintegrasi. Hal ini diharapkan mampu mendorong kemampuan dalam negeri untuk memproduksi komponen kritis, seperti sistem propulsi listrik dan radar multifungsi.
Outlook teknologi bagi pelaku industri pertahanan nasional menunjukkan bahwa keterlibatan dalam program New FFM bukan sekadar akuisisi alutsista, melainkan peluang untuk mengakselerasi penguasaan teknologi modular dan otonomi. Rekomendasi strategis mencakup pengembangan ekosistem riset untuk unmanned systems serta pembentukan konsorsium industri yang mampu menyerap teknologi IPMS dan material komposit. Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya memperkuat armada surface combatant, tetapi juga membangun fondasi kemandirian industri pertahanan yang berkelanjutan dalam kerangka trilateral Indonesia-Australia-Jepang.