Pada 28 Agustus 2026, TNI Angkatan Laut (TNI AL) dan Angkatan Laut Australia (RAN) menggelar latihan bersama 'Kangaroo Shield' yang berfokus pada integrasi sistem radar maritim di perairan strategis Selat Lombok. Latihan ini menjadi laboratorium teknis untuk menguji interoperabilitas dua kekuatan maritim melalui protokol data taktis Link 16 — fondasi konektivitas pertahanan modern. Dengan melibatkan fregat andalan Indonesia, KRI Bung Tomo dan KRI Sultan Hasanuddin, serta kapal perusak Australia HMAS Sydney, skenario utama adalah pertukaran data radar secara real-time antarplatform, menciptakan gambaran situasi maritim terpadu. Fregat Indonesia yang dilengkapi radar multifungsi Thales Smart-S MK2 dan sistem tempur CMS generasi kelima terintegrasi penuh dengan sistem AEGIS pada HMAS Sydney, memberikan kapabilitas deteksi ancaman dari jarak lebih dari 200 km sekaligus mengurangi redundansi pemindaian di medan tempur.
Integrasi Data Link 16: Fondasi Konektivitas Maritim Masa Depan
Latihan bersama ini menjadi tolok ukur kesiapan sistem komando dan kendali (C2) gabungan yang akan diimplementasikan di pusat data maritim regional yang direncanakan beroperasi pada 2028. Protokol Link 16 — standar data taktis NATO dengan kecepatan transmisi 2,4 Mbps — memungkinkan berbagi data radar, sonar, dan sistem senjata antarplatform secara aman. Integrasi radar maritim antara kapal Indonesia dan Australia melalui sistem ini menciptakan ekosistem pertahanan maritim yang lebih responsif terhadap ancaman asimetris dan serangan udara. Selat Lombok, dengan kondisi gelombang elektromagnetik tropis yang kompleks, terbukti menjadi medan uji ideal untuk konektivitas data. Keberhasilan uji coba ini membuka jalan bagi pengembangan arsitektur pertahanan maritim berbasis network-centric warfare yang dapat diadopsi oleh negara-negara ASEAN.
Profil Teknis Kapal Perang dalam Latihan Integrasi Radar
- KRI Bung Tomo (Fregat kelas Diponegoro): Ditenagai radar Thales Smart-S MK2 dengan jangkauan 250 km dan sistem pertahanan udara MBDA Mica, mampu menjejak 200 target sekaligus.
- KRI Sultan Hasanuddin (Fregat kelas Martadinata): Dilengkapi radar 3D SMART-S MK1 dan sistem C2 IPCMS, mendukung pertukaran data Link 16 secara real-time.
- HMAS Sydney (Kapal perusak kelas Hobart): Mengusung sistem AEGIS dengan radar AN/SPY-1D(V) phased array, dapat mengintegrasikan data dari 1.000 target dalam radius 400 km.
- Data Link Link 16: Protokol taktis NATO dengan kecepatan transmisi 2,4 Mbps, memungkinkan berbagi data radar, sonar, dan sistem senjata antarplatform.
Daftar spesifikasi di atas menegaskan bahwa latihan integrasi radar maritim ini tidak hanya menguji interoperabilitas teknis, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi pengembangan sistem tempur jaringan terdistribusi. Dengan keberhasilan koneksi data radar antara kapal Indonesia dan Australia, potensi penggabungan data intelijen dari berbagai platform udara dan darat di kawasan Indo-Pasifik semakin terbuka lebar. Bagi industri pertahanan nasional, latihan bersama ini memberikan referensi teknis untuk mempercepat adopsi standar komunikasi data taktis global, sekaligus mendorong kemandirian dalam pengembangan sistem C2 berbasis radar yang kompatibel dengan alutsista negara mitra. Ke depan, penguatan pusat data maritim regional pada 2028 akan mengubah paradigma pertahanan maritim Indonesia dari reaktif menjadi prediktif, dengan integrasi sensor yang lebih rapat dan respons ancaman dalam hitungan detik. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah segera memetakan kebutuhan komponen lokal untuk sistem Link 16 dan memulai alih teknologi radar multifungsi agar ekosistem pertahanan maritim nasional mampu bersaing di era perang jaringan.