READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

BRIN Lakukan Uji Terbang Drone PUNA untuk Perkuat Ekosistem Riset dan Industri Penerbangan

BRIN Lakukan Uji Terbang Drone PUNA untuk Perkuat Ekosistem Riset dan Industri Penerbangan

BRIN melaksanakan uji terbang komprehensif terhadap beragam platform Pesawat Udara Nirawak (PUNA) untuk memvalidasi kinerja teknologi dalam negeri, terutama pada sistem kendali, komunikasi, dan kemampuan endurance. Inisiatif ini menjadi langkah strategis membangun ekosistem riset dan industri penerbangan mandiri, yang akan memperkuat kapabilitas ISR nasional dan posisi Indonesia di peta pengembang teknologi drone regional.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar serangkaian pengujian skala besar terhadap berbagai platform Pesawat Udara Nirawak (PUNA) di Lanud Saleh Basareh, Rumpin, pada 23-25 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi validasi kritis terhadap lima wahana berbeda — mulai dari konfigurasi sayap tetap, hybrid VTOL, hingga multirotor — yang mencakup pengujian sistem kendali terbang, komunikasi data link, dan stasiun kendali darat. Tujuannya adalah untuk memastikan maturitas teknologi sebelum integrasi ke dalam ekosistem operasional kemampuan nasional yang lebih luas, sekaligus menegaskan komitmen riset teknologi penerbangan untuk mencapai swasembada alutsista strategis.

Teknologi VTOL dan Endurance: Validasi Kinerja Platform Survei Strategis

Dalam gelaran uji terbang ini, platform LSU-02 VTOL menjadi sorotan utama karena kemampuannya mengombinasikan efisiensi jelajah pesawat sayap tetap dengan fleksibilitas operasi lepas-landas dan mendarat vertikal. Konfigurasi hibrida ini ideal untuk operasi di medan terbatas sekaligus perluasan radius pengintaian. Sementara itu, platform ALAP-ALAP KX-0601 dan NIU-V7 menunjukkan performa ketahanan terbang hingga enam jam dengan jangkauan operasi lebih dari 100 kilometer. Spesifikasi teknis ini mengindikasikan kesiapan untuk misi-misi ISR (Intelijen, Surveilans, dan Pengintaian) taktis yang memerlukan cakupan area luas dan durasi loitering yang signifikan. Performa tersebut didukung oleh sistem komunikasi data yang diuji untuk memastikan redundansi dan keamanan transmisi informasi intelijen di medan operasi yang kompleks.

Flying Test Bed dan Roadmap Menuju Autonomi Navigasi Penuh

Kemajuan riset teknologi PUNA nasional tidak hanya tercermin pada platform operasional, tetapi juga pada wahana pengembangan seperti Kresna yang berfungsi sebagai flying test bed. Wahana ini difungsikan secara khusus untuk menguji komponen paling kritis dalam sistem nirawak: Flight Control Computer (FCC). Penguasaan atas FCC merupakan lompatan strategis menuju kemandirian penuh dalam teknologi navigasi otonom, yang menjadi fondasi bagi pengembangan drone dengan tingkat otonomi level 4 atau bahkan 5 di masa depan. Selain itu, platform siap pakai seperti Trinity F90+ membuktikan aplikasi langsung teknologi ini dengan kemampuan memetakan area seluas 500 hektare dalam satu misi tunggal. Kemampuan ini menawarkan solusi taktis untuk kebutuhan pemetaan cepat dan akurat, mendukung pengambilan keputusan operasional berbasis data spasial berpresisi tinggi.

Inisiatif validasi terintegrasi ini merupakan bagian dari strategi BRIN untuk memperkuat ekosistem industri penerbangan nasional secara holistik. Selain memvalidasi platform, kegiatan ini secara simultan membangun rantai pasok komponen kritis, mendorong kolaborasi antar-lembaga riset, dan mengasah kompetensi SDM teknis di bidang aeronautika dan sistem kendali. Pengujian menyeluruh terhadap beragam konfigurasi PUNA ini bertujuan membangun database performa yang komprehensif, yang menjadi acuan untuk pengembangan generasi berikutnya dan standarisasi operasional.

  • ALAP-ALAP KX-0601 / NIU-V7: Endurance 6 jam, jangkauan 100+ km, untuk misi ISR area luas.
  • LSU-02 VTOL: Konfigurasi hybrid, lepas-landas vertikal, efisiensi jelajah tinggi.
  • Kresna (Flying Test Bed): Fokus pengujian Flight Control Computer (FCC) untuk otonomi navigasi.
  • Trinity F90+: Kemampuan pemetaan 500 hektar/misi, solusi survei cepat.

Outlook teknologi ke depan menunjukkan bahwa penguasaan penuh atas siklus hidup PUNA — dari desain, produksi komponen, integrasi sistem, hingga validasi operasional — akan menjadi katalis utama bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia. Dalam dekade mendatang, arsitektur pertahanan multi-domain diperkirakan akan mengintegrasikan sistem drone swarming, platform MALE (Medium Altitude Long Endurance), dan sistem komando-kontrol terpusat. Untuk mencapai target tersebut, rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah memperdalam kolaborasi triple helix (pemerintah-industri-akademi), mengakselerasi alih teknologi pada bidang kritis seperti sensor imaging, propulsion elektrik/hybrid, dan algoritma kecerdasan buatan untuk pengolahan data ISR secara real-time.

PUNA|drone|riset teknologi|pengujian|kemampuan nasional
ARTIKEL TERKAIT