Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat pencapaian krusial dalam riset alutsista nasional melalui uji perdana prototipe radar AESA dual band yang dilaksanakan pada 11 September 2026 di Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi BRIN, Bandung. Radar ini mengintegrasikan modul transmisi/receive (T/R) berbasis gallium nitride (GaN) yang beroperasi simultan pada pita S (2–4 GHz) dan pita X (8–12 GHz), memberikan kemampuan deteksi terhadap target siluman generasi kelima seperti Su-57 dan J-20 pada jarak hingga 300 kilometer. Dengan akurasi jangkauan 10 meter dan cakupan azimuth 360 derajat, prototipe ini diproyeksikan menjadi tulang punggung sistem pertahanan udara nasional dalam menghadapi ancaman asimetris modern. Inovasi ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam rantai pasok teknologi militer global, khususnya dalam pengembangan radar multifungsi yang mampu mengatasi tantangan peperangan elektronik masa depan.
Arsitektur GaN dan Kapabilitas Spektral Dual Band
Keunggulan utama radar AESA dual band ini terletak pada fleksibilitas spektral yang memungkinkan transisi cepat antara fungsi surveillance dan fire control. Pita X memberikan resolusi tinggi untuk pelacakan presisi, sementara pita S mendukung pencarian volume luas dengan ketahanan lebih baik terhadap interferensi cuaca. Kombinasi dua pita dalam satu platform menghilangkan kebutuhan akan dua radar terpisah, menghemat ruang dan daya pada platform pertahanan. Teknologi GaN menjadi kunci transformasi ini, dengan efisiensi daya tinggi dan manajemen termal unggul yang memungkinkan operasi berkelanjutan pada daya tinggi tanpa risiko degradasi performa, ideal untuk misi persistent surveillance di medan tropis Indonesia.
- Frekuensi operasi: pita S 2–4 GHz dan pita X 8–12 GHz secara simultan
- Material semikonduktor: modul T/R berbasis gallium nitride (GaN) dengan efisiensi daya tinggi dan manajemen termal unggul
- Cakupan deteksi: azimuth 360 derajat dengan akurasi jangkauan hingga 10 meter
- Jangkauan deteksi target stealth: hingga 300 km terhadap Su-57 dan J-20
- Kapabilitas kontra-asimetris: deteksi drone swarm dan rudal jelajah
Hasil uji prototipe membuktikan bahwa material GaN mampu memberikan efisiensi spektral yang jauh lebih tinggi dibandingkan gallium arsenide (GaAs) yang digunakan pada radar generasi sebelumnya. Keunggulan manajemen termal GaN memungkinkan radar beroperasi pada daya lebih tinggi tanpa risiko degradasi performa, menjadikannya ideal untuk misi persistent surveillance di medan tropis. Dengan performa ini, radar AESA dual band BRIN mampu menangani ancaman dari spektrum stealth hingga drone swarm, memperkuat posisi Indonesia dalam transformasi pertahanan udara nasional yang adaptif terhadap tren militer global.
Integrasi C4ISR dan Road Map Produksi Massal
BRIN menargetkan integrasi radar AESA dual band dengan sistem senjata (missile fire control) dan arsitektur C4ISR nasional rampung pada 2028. Dalam ekosistem pertahanan modern, radar ini tidak berdiri sendiri melainkan berfungsi sebagai sensor utama dalam jaringan komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan pengintaian. Keberhasilan integrasi akan memperkuat sistem pertahanan udara nasional dalam menghadapi peperangan asimetris yang ditandai oleh serangan drone swarm dan rudal jelajah. Riset ini didanai oleh dana abadi riset pertahanan sebesar Rp 1,2 triliun yang merupakan bagian dari road map kemandirian alutsista 2025–2040, menunjukkan komitmen strategis pemerintah dalam membangun ekosistem industri pertahanan yang mandiri.
BRIN juga menjalin kolaborasi dengan PT Len Industri untuk fabrikasi massal radar taktis. Langkah ini memastikan teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tataran prototipe, melainkan dapat diproduksi dalam skala industri dan diintegrasikan ke platform pertahanan nasional, seperti kapal perang, pesawat tempur, dan stasiun darat. Proses produksi massal ini akan melibatkan transfer teknologi ke industri manufaktur lokal, meningkatkan kemandirian dalam rantai pasok komponen militer dan mengurangi ketergantungan pada impor. Outlook teknologi ini menempatkan BRIN dan PT Len Industri sebagai pionir dalam riset alutsista dan pertahanan udara, dengan dampak jangka panjang pada modernisasi alutsista TNI AU dan pengembangan kapasitas produksi komponen GaN nasional.
Bagi pelaku industri pertahanan nasional, ini menjadi momentum untuk meningkatkan investasi dalam riset material semikonduktor dan manufaktur modul T/R GaN, guna memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain regional dalam pertahanan udara. Rekomendasi strategis mencakup pendirian pusat riset bersama antara universitas, BRIN, dan PT Len, serta pengembangan program sertifikasi komponen lokal untuk mempercepat adopsi teknologi dual band ini di platform pertahanan masa depan.