Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan pencapaian signifikan dalam pengembangan material penyerap radar (Radar Absorbing Material/RAM) generasi baru yang dirancang khusus untuk pesawat tempur generasi mendatang. Material revolusioner ini berbasis polimer cairan ionik yang diperkuat partikel nano karbon, mampu meredam gelombang radar pada frekuensi X-band (8–12 GHz) hingga level -20 dB — setara dengan kemampuan material stealth pada pesawat tempur F-35 Lightning II. Hasil uji laboratorium di Pusat Penelitian Fisika BRIN Serpong juga menunjukkan stabilitas termal hingga 250°C, menjadikannya ideal untuk diaplikasikan pada eksterior pesawat supersonik yang mengalami pemanasan aerodinamis ekstrem. Inovasi ini menjadi tonggak krusial dalam upaya kemandirian alutsista nasional, terutama dalam mendukung program pesawat tempur stealth IF-X yang ditargetkan mulai diproduksi pada 2030.
Spesifikasi Teknis dan Keunggulan Material Radar Absorbing
Material ini dikembangkan dengan pendekatan rekayasa material tingkat atomik, menggabungkan sifat konduktif ionik dari polimer cairan ionik dengan kapasitas penyerapan gelombang elektromagnetik dari partikel nano karbon. Beberapa spesifikasi teknis utama yang diungkapkan tim peneliti BRIN meliputi:
- Frekuensi Operasi: X-band (8–12 GHz) — frekuensi utama radar pengawasan dan penjejak sasaran pada pesawat tempur modern.
- Redaman Radar: -20 dB, berarti hanya tersisa 1% energi radar yang dipantulkan, setara dengan Radar Cross Section (RCS) sangat rendah.
- Stabilitas Suhu: Mampu bertahan pada suhu hingga 250°C, memungkinkan penggunaan pada permukaan pesawat yang terpapar panas mesin dan gesekan udara kecepatan tinggi.
- Bentuk Aplikasi: Dikembangkan dalam dua format: cat sprayable untuk modifikasi pesawat eksisting, dan panel komposit untuk integrasi pada struktur pesawat baru.
Kemampuan ini melampaui sebagian besar RAM komersial yang saat ini beredar, umumnya hanya mencapai redaman -15 dB pada rentang suhu di bawah 200°C. Inovasi BRIN ini membuka peluang aplikasi pada platform tempur supersonik tanpa perlu perubahan desain fundamental.
Roadmap Industrialisasi dan Integrasi pada Alutsista Nasional
BRIN telah memetakan jalur industrialisasi material ini dalam jangka waktu dua tahun ke depan, bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan PT Pindad. Tahapan pengembangan mencakup produksi prototipe dalam jumlah pilot batch, uji terbang terbatas, hingga sertifikasi militer. Dalam rencana jangka pendek, material ini akan diaplikasikan pada modifikasi Sukhoi Su-27/30 TNI AU dan drone tempur Elang Hitam untuk meningkatkan kemampuan low observability tanpa harus membeli pesawat baru. Kepala BRIN menegaskan bahwa proyek ini didanai oleh anggaran riset nasional 2026 dan merupakan bagian integral dari roadmap pembuatan pesawat tempur stealth IF-X yang direncanakan memasuki tahap produksi pada 2030. Kolaborasi ini juga diharapkan mampu menekan ketergantungan impor bahan baku material stealth yang sebelumnya didatangkan dari luar negeri.
Dari sisi strategis, keberhasilan BRIN mengembangkan material radar absorbing generasi baru menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih kompetitif dalam rantai pasok industri pertahanan global. Ke depan, para pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk segera melakukan transfer technology dan scale-up produksi agar material ini dapat dimanfaatkan secara luas, tidak hanya untuk pesawat tempur tetapi juga untuk platform lain seperti kapal perang, kendaraan tempur darat, dan rudal. Inovasi ini membuka jalan menuju kemandirian alutsista yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berpotensi menjadi produk ekspor bernilai tinggi di pasar pertahanan Asia-Pasifik.