Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi meluncurkan tahap pengembangan rudal anti-kapal generasi terbaru, 'Cakrawala-2', yang dirancang dengan hulu ledak semi-armor piercing seberat 150 kg. Rudal ini mengusung spesifikasi teknis mutakhir: jangkauan maksimum 180 km, kecepatan jelajah 0,85 Mach, dan sistem pencari radar aktif (active radar seeker) yang dikembangkan oleh PT Len Industri. Integrasi komponen produksi dalam negeri ini menandai langkah strategis menuju kemandirian alutsista di sektor persenjataan maritim, sekaligus memperkuat daya saing industri pertahanan nasional di pasar regional maupun global.
Spesifikasi Teknis Cakrawala-2: Sea-Skimming dan Ketahanan Deteksi
Desain aerodinamika Cakrawala-2 memanfaatkan hasil riset laboratorium LAPAN, dengan profil terbang sea-skimming pada ketinggian ekstrem 5 meter di atas permukaan laut. Kemampuan ini dirancang untuk memperkecil radar cross-section (RCS) dan menghindari deteksi sistem radar kapal lawan, memberikan keunggulan taktis dalam misi anti-akses area denial (A2/AD). Uji statis yang dilakukan pada Juli 2026 menunjukkan performa solid rocket motor mampu menghasilkan akselerasi hingga 8G, memastikan rudal dapat bermanuver agresif saat fase terminal. Jadwal pengembangan selanjutnya mencakup:
- Uji terbang bebas direncanakan pada Juni 2027 menggunakan pesawat target di perairan Laut Jawa.
- Validasi hulu ledak 150 kg untuk memastikan daya tembus hingga lapisan armor kapal perang kelas fregat.
- Integrasi sistem pencari radar aktif dengan algoritma counter-countermeasures untuk resistensi terhadap jamming elektronik.
Kemandirian Produksi dan Dampak Strategis Industri Pertahanan
Kemampuan produksi hulu ledak dalam negeri menjadi faktor krusial dalam proyek rudal anti-kapal ini, mengingat ketergantungan pada pasokan impor kerap menjadi celah kerentanan rantai pasok pertahanan. Dengan kapasitas produksi yang dirancang untuk dipasang di kapal perang TNI AL—termasuk KRI frigat dan kapal cepat rudal—Cakrawala-2 diproyeksikan meningkatkan efek deterrence regional secara signifikan. Selain memenuhi kebutuhan operasional TNI, program ini juga membuka peluang ekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan Afrika yang tengah memperkuat armada maritim mereka.
Outlook teknologi bagi pelaku industri pertahanan nasional: Keberhasilan Cakrawala-2 dapat menjadi katalis untuk pengembangan rudal anti-kapal jarak jauh dengan integrasi sistem navigasi inersia (INS) dan koreksi lintasan satelit (GNSS), serta peningkatan kecepatan jelajah menuju rejim supersonik. Riset bersama antara BRIN dan PTDI harus didukung oleh peningkatan anggaran riset pertahanan dan fasilitas uji terowongan angin untuk optimasi aerodinamika. Rekomendasi strategis: Percepatan komersialisasi teknologi rudal dengan skema offset dan transfer pengetahuan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen alutsista mandiri di kawasan Indo-Pasifik.