READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

BRIN dan LAPAN Kembangkan Komposit Serat Karbon untuk Drone Tempur N-219

BRIN dan LAPAN Kembangkan Komposit Serat Karbon untuk Drone Tempur N-219

BRIN dan LAPAN berhasil mengembangkan komposit serat karbon berkekuatan 2.500 MPa untuk drone tempur N-219 varian armed, dengan bobot 35% lebih ringan dari aluminium. Material ini mampu meningkatkan muatan hingga 600 kg dan endurance di atas 30 jam, serta memiliki karakteristik radar-absorbing. Pencapaian ini menjadi fondasi kemandirian material alutsista nasional dan menargetkan penerbangan perdana struktur komposit penuh pada 2027.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama LAPAN telah menyelesaikan uji laboratorium terhadap komposit serat karbon berkekuatan tinggi yang dirancang untuk struktur sayap pesawat nirawak tempur N-219 varian armed. Material komposit baru ini mencatatkan kekuatan tarik mencapai 2.500 MPa dengan bobot 35% lebih ringan dibandingkan material aluminium yang digunakan pada prototipe sebelumnya. Uji tersebut dilakukan di fasilitas Material Aerospace Research Center di Bandung menggunakan mesin uji universal dan simulasi beban statis, menandai kemajuan signifikan dalam riset material pertahanan nasional. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi riset antara BRIN, LAPAN, PT Dirgantara Indonesia, dan perusahaan kimia nasional, dengan pendanaan dari skema Riset dan Inovasi Industri Pertahanan Kementerian Pertahanan.

Spesifikasi Teknis dan Dampak Operasional Komposit Serat Karbon

Komposit ini disintesis dari prekursor serat karbon berbasis polyacrylonitrile yang sepenuhnya diproduksi secara nasional. Hasil pengujian laboratorium mengonfirmasi sejumlah spesifikasi kunci yang menjadikannya material unggul untuk aplikasi dirgantara militer:

  • Kekuatan tarik: 2.500 MPa, setara dengan material komposit standar internasional untuk aplikasi struktural pesawat tempur.
  • Bobot 35% lebih ringan dari aluminium, mengurangi massa kosong drone secara signifikan.
  • Kapasitas muatan persenjataan meningkat hingga 600 kg, memungkinkan integrasi rudal dan bom berpemandu presisi.
  • Waktu jelajah di atas 30 jam, berkat efisiensi struktural dan pengurangan bobot.
  • Karakteristik radar-absorbing material (RAM) mulai diuji untuk mengurangi penampang radar (Radar Cross Section) pesawat, meningkatkan kemampuan siluman.

Dengan bobot yang lebih ringan dan kekuatan tinggi, drone tempur N-219 varian armed mampu mengoptimalkan payload dan endurance secara bersamaan, menjadikannya platform ideal untuk misi pengintaian jarak jauh dan serangan strategis. Material komposit ini juga membuka jalan bagi peningkatan kapasitas bahan bakar dan sistem avionik yang lebih kompleks tanpa mengorbankan performa aerodinamis.

Implikasi Strategis: Menuju Kemandirian Material Alutsista Nasional

Proyek riset ini menargetkan penerbangan perdana dengan struktur komposit penuh pada tahun 2027. Dukungan dana dari Kementerian Pertahanan mencapai Rp 250 miliar, mencerminkan komitmen pemerintah dalam menguasai teknologi material maju untuk alutsista. Penguasaan teknologi komposit serat karbon ini menjadi kunci bagi generasi berikutnya dari kendaraan udara tak berawak nasional dan pesawat latih jet untuk TNI AU. Selain itu, keberhasilan ini memperkuat ekosistem industri pertahanan dalam negeri, khususnya di sektor material komposit dan kimia.

Ke depan, pelaku industri pertahanan nasional perlu mempercepat hilirisasi riset material ini ke lini produksi massal. Langkah strategis yang direkomendasikan meliputi pembangunan rantai pasok serat karbon mandiri, investasi dalam fasilitas manufaktur komposit berskala industri, serta pengembangan sumber daya manusia di bidang material rekayasa. Kolaborasi dengan pusat riset seperti BRIN dan LAPAN harus terus diperkuat untuk menjaga kesinambungan inovasi. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen material komposit kelas dunia yang mampu menopang kemandirian alutsista nasional dan bersaing di pasar global.

BRIN|komposit|drone|material|riset
ENTITAS TERKAIT
Topik: Komposit Serat Karbon, Drone Tempur N-219, Riset Industri Pertahanan
Organisasi: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), LAPAN, PT Dirgantara Indonesia, Kementerian Pertahanan, TNI AU, Material Aerospace Research Center
Lokasi: Bandung
ARTIKEL TERKAIT