READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

BPPT Uji Coba Rudal Anti-Kapal Baru Bertenaga Ramjet

BPPT Uji Coba Rudal Anti-Kapal Baru Bertenaga Ramjet

BPPT berhasil melakukan uji coba propulsi darat rudal anti-kapal bertenaga ramjet dengan kecepatan Mach 2,8 dan jangkauan 300 km di Lumajang. Rudal generasi kelima ini mengusung hulu ledak semi-penetrator 150 kg serta sistem pencari ganda IIR dan radar aktif, menandai langkah besar menuju kemandirian alutsista nasional. Produksi massal direncanakan pada 2028 untuk menggantikan rudal impor seperti Exocet.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah sukses melaksanakan uji coba propulsi darat untuk rudal anti-kapal baru bertenaga ramjet di Instalasi Uji Coba Balitbang Kemhan, Lumajang. Uji coba ini menandai tonggak kritis dalam pengembangan rudal anti-kapal generasi kelima dalam negeri yang mengusung teknologi propulsi ramjet berbahan bakar padat dengan scramjet inlet. Rudal ini dirancang untuk mencapai kecepatan jelajah Mach 2,8 dan jangkauan efektif hingga 300 kilometer, menempatkannya dalam kelas rudal jelajah supersonik yang mampu menembus pertahanan udara musuh dengan waktu respons minimal.

Spesifikasi Teknis dan Keunggulan Sistem Propulsi Ramjet

Rudal yang dikembangkan ini mengintegrasikan sejumlah teknologi mutakhir yang memperkuat daya gentar platform Rudal anti-kapal nasional. Berikut adalah rincian spesifikasi teknis utama yang diungkap dalam uji coba:

  • Kecepatan jelajah: Mach 2,8 – memungkinkan rudal mencapai sasaran dalam waktu singkat, mengurangi peluang intersepsi.
  • Jangkauan efektif: 300 km – memberikan kemampuan stand-off yang memadai bagi platform peluncur.
  • Sistem propulsi: Ramjet berbahan bakar padat dengan scramjet inlet – menghasilkan dorongan tinggi tanpa bagian bergerak, meningkatkan keandalan dan mengurangi tanda radar.
  • Hulu ledak: Semi-penetrator seberat 150 kg – mampu menembus lapis baja kapal perang modern, termasuk sistem perlindungan aturan ganda.
  • Sistem pencari terminal: Kombinasi pencari infra merah (IIR) dan radar aktif – memastikan akuisisi sasaran yang akurat dalam kondisi electronic countermeasures tinggi.

Keberhasilan Uji coba propulsi darat ini membuktikan bahwa teknologi ramjet buatan dalam negeri telah mencapai tingkat kematangan yang memadai. Langkah selanjutnya adalah integrasi sistem kendali dan uji terbang, yang dijadwalkan pada tahun 2025–2026.

Implikasi terhadap Kemandirian Industri Pertahanan Nasional

Proyek rudal ini merupakan bagian dari strategi besar untuk mengurangi ketergantungan pada rudal impor seperti Exocet. Dengan kemampuan substitusi impor, Indonesia tidak hanya menghemat devisa tetapi juga membangun rantai pasok lokal untuk komponen kritis seperti sistem propulsi, hulu ledak, dan elektronik. BPPT menargetkan produksi massal pada tahun 2028, yang akan melibatkan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) industri pertahanan dan mitra swasta nasional.

Tahapan pengembangan rudal anti-kapal ini mencakup:

  • Uji propulsi darat (2024) – telah berhasil.
  • Uji terbang dengan kendali jarak jauh (2025).
  • Uji tembak langsung sasaran (2026).
  • Sertifikasi dan produksi awal (2027).
  • Produksi massal dan pengadaan (2028).

Dengan jadwal yang ketat, diperlukan dukungan anggaran berkelanjutan dan transfer teknologi dari mitra strategis untuk mempercepat hilirisasi. Rudal ini juga dirancang agar kompatibel dengan kapal perang kelas korvet dan fregat TNI AL yang sudah ada, sehingga integrasi platform tidak memerlukan modifikasi besar.

Kehadiran Rudal anti-kapal bertenaga ramjet ini diproyeksikan meningkatkan daya gentar armada permukaan TNI AL secara signifikan. Selain kecepatan dan jangkauan, kemampuan manuver pada fase terminal berkat sistem kendali vektor dorong memberikan keunggulan dalam mengatasi sistem pertahanan lawan. Dalam konteks geopolitik regional, rudal ini menjadi penyeimbang terhadap penguasaan teknologi rudal supersonik oleh negara tetangga.

Bagi pelaku industri pertahanan nasional, proyek ini membuka peluang investasi pada lini produksi komposit, sistem propulsi, dan perangkat keras elektronik. Kolaborasi antara BPPT, Kemhan, dan BUMN seperti PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia perlu diperkuat untuk memastikan kelancaran transfer teknologi dan pengembangan varian turunan. Ke depan, pengembangan rudal anti-kapal dengan jangkauan 500 km dan kecepatan Mach 4 menggunakan ramjet berbahan bakar cair dapat menjadi langkah strategis untuk memasuki pasar ekspor kawasan Asia-Pasifik. Penguasaan teknologi ramjet ini juga akan menjadi fondasi bagi inovasi rudal jelajah darat dan rudal udara-ke-permukaan generasi mendatang.

Rudal anti-kapal|Ramjet|BPPT|Uji coba
ENTITAS TERKAIT
Topik: rudal anti-kapal, ramjet, uji coba
Organisasi: BPPT, Balitbang Kemhan
Lokasi: Lumajang
ARTIKEL TERKAIT