READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

BPPT Kembangkan Rudal Anti-Kapal C-705 Versi Enhanced dengan Jangkauan 300 km

BPPT Kembangkan Rudal Anti-Kapal C-705 Versi Enhanced dengan Jangkauan 300 km

BPPT bersama konsorsium industri nasional mengembangkan rudal anti-kapal C-705 versi enhanced dengan jangkauan 300 km, kecepatan Mach 0,9, dan sistem navigasi inersia-GPS anti-jamming yang didukung pencari radar buatan dalam negeri. Proyek riset beranggaran Rp1,1 triliun ini memperkuat kemandirian alutsista TNI AL sekaligus membuka peluang ekspor ke Asia Tenggara. Uji terbang pada awal 2027 di Laut Jawa akan menjadi batu loncatan bagi industri pertahanan Indonesia menuju peta jalan produksi massal dan sertifikasi internasional.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama konsorsium industri pertahanan nasional resmi mengumumkan lompatan kapabilitas pada rudal anti-kapal C-705, dengan varian enhanced yang menggandakan daya jangkau menjadi 300 km—meningkat 50% dari varian dasar 200 km. Rudal ini membawa kecepatan jelajah Mach 0,9 serta kemampuan manuver tinggi pada fase terminal, didukung anggaran riset Rp1,1 triliun untuk memperkuat TNI AL dalam menjaga alur laut kepulauan Indonesia. Proyek ini tidak hanya menjadi akselerator kemandirian teknologi anti-kapal dalam negeri, tetapi juga membuka peluang ekspor ke pasar Asia Tenggara. Varian enhanced menandai pergeseran dari perakitan menuju rekayasa lanjutan yang berbasis riset mendalam.

Inovasi Sistem Navigasi dan Pencari Radar pada Rudal C-705 Enhanced

Pada aspek teknis, rudal anti-kapal C-705 enhanced mengadopsi sistem navigasi inersia yang diintegrasikan dengan GPS anti-jamming, memastikan akurasi tinggi di lingkungan elektronik yang padat. Pencari radar aktif buatan PT Teknologi Dirgantara menjadi komponen kunci pada fase terminal, memberikan kemampuan lock-on-after-launch yang adaptif terhadap manuver target. Integrasi teknologi ini memungkinkan rudal melacak sasaran kapal dengan presisi tinggi, termasuk dalam kondisi cuaca buruk dan medan perang elektronik yang intensif. Berikut spesifikasi teknis utama varian enhanced:

  • Jangkauan: 300 km (peningkatan 50% dari varian dasar 200 km)
  • Kecepatan: Mach 0,9 dengan manuver terminal tinggi
  • Sistem Navigasi: Inersia + GPS anti-jamming
  • Pencari: Radar aktif buatan PT Teknologi Dirgantara
  • Anggaran Riset: Rp1,1 triliun
  • Target Uji Terbang: Awal 2027 di Laut Jawa

Pengembangan sistem navigasi dan pencari radar pada rudal C-705 enhanced menandai pergeseran paradigma dari ketergantungan komponen impor menuju integrasi teknologi domestik. Kemampuan lock-on-after-launch yang adaptif memberikan keunggulan taktis bagi TNI AL dalam menghadapi ancaman kapal permukaan yang bergerak dinamis, sekaligus meningkatkan survivability rudal terhadap sistem pertahanan udara lawan. Fase terminal dengan manuver tinggi menjadi pembeda utama dari varian sebelumnya, memperkuat probabilitas hits pada target bergerak di lingkungan maritim yang kompleks.

Dampak Strategis bagi Kemandirian Industri Pertahanan Nasional

Pengembangan rudal anti-kapal C-705 enhanced tidak hanya memperkuat alutsista TNI AL, tetapi juga menjadi langkah maju dalam kemandirian industri pertahanan. Dengan melibatkan konsorsium lokal, BPPT mendorong transfer teknologi dan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri. Proyek ini menargetkan pengurangan ketergantungan pada impor rudal, sekaligus membuka celah ekspor ke pasar Asia Tenggara yang membutuhkan rudal anti-kapal berbiaya menengah dengan kinerja tinggi. Keberhasilan uji terbang pada 2027 akan menjadi tonggak krusial dalam roadmap alutsista nasional, sekaligus membuktikan kapabilitas riset dan manufaktur pertahanan Indonesia di kancah global. Integrasi komponen lokal seperti pencari radar dari PT Teknologi Dirgantara menegaskan bahwa riset dan inovasi dalam negeri mampu bersaing dengan produk impor.

Ke depan, keberlanjutan proyek rudal C-705 enhanced harus didukung oleh kebijakan offset yang lebih agresif dan pendanaan riset berkelanjutan. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, langkah selanjutnya adalah mempercepat hilirisasi teknologi melalui pembentukan lini produksi massal dan sertifikasi internasional—khususnya untuk segmen ekspor Asia Tenggara yang membutuhkan solusi anti-kapal dengan biaya operasional rendah namun akurasi tinggi. Dengan fondasi riset yang sudah terbangun, Indonesia berpotensi menjadi player kunci dalam rantai pasok rudal taktis global pada dekade mendatang.

rudal|C-705|BPPT|anti-kapal|riset
ENTITAS TERKAIT
Topik: rudal anti-kapal, C-705 enhanced, pengembangan, pertahanan
Organisasi: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), konsorsium industri pertahanan nasional, PT Teknologi Dirgantara, TNI AL
Lokasi: Laut Jawa, Asia Tenggara, Indonesia
ARTIKEL TERKAIT