Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) secara resmi meluncurkan program riset pengembangan engine turboprop hybrid yang dirancang khusus untuk kebutuhan UAV serang jarak jauh kelas MALE (Medium Altitude Long Endurance) buatan dalam negeri. Mesin ini mengintegrasikan turbin gas mini dengan motor listrik dalam konfigurasi series-parallel hybrid, memungkinkan pengurangan konsumsi bahan bakar hingga 25% serta peningkatan endurance sampai 40 jam terbang tanpa pengisian ulang. Teknologi variable cycle dan integrated starter-generator menjadi pilar utama riset ini, menandai lompatan signifikan dalam efisiensi propulsi UAV tempur generasi mendatang. Prototipe pertama ditargetkan rampung pada 2028 dan diharapkan menjadi jantung dari drone tempur generasi baru Indonesia, sekaligus memperkuat posisi riset nasional di industri pertahanan.
Inovasi Teknologi Variable Cycle dan Integrated Starter-Generator
Riset engine turboprop hybrid BPPT berfokus pada dua terobosan teknis utama yang mengubah paradigma propulsi UAV. Pertama, Variable Cycle: sistem ini memungkinkan mesin beralih secara dinamis antara mode turbin gas murni, hibrida (turbin + motor listrik), dan motor listrik penuh tergantung fase misi. Pada fase loiter atau pengintaian, motor listrik mengambil alih untuk kebisingan minimal, sementara turbin gas aktif saat sprint atau membawa muatan berat. Kedua, Integrated Starter-Generator (ISG): generator listrik terintegrasi langsung pada poros turbin, menggantikan sistem starter konvensional. Ini mengurangi bobot hingga 40 kg dan memungkinkan regenerative braking saat descent, mengonversi energi kinetik menjadi listrik yang disimpan di baterai. Kombinasi kedua teknologi ini diprediksi menurunkan Specific Fuel Consumption (SFC) dari rata-rata 0,55 lb/hp-jam menjadi 0,41 lb/hp-jam, setara dengan penghematan 25% bahan bakar. Dalam simulasi misi 36 jam, UAV dengan engine konvensional membutuhkan 1.200 liter avgas, sementara versi hybrid cukup dengan 900 liter, artinya bobot muatan atau jarak jelajah bisa ditingkatkan secara signifikan.
Proyeksi Pengembangan dan Target Produksi 2028
Tahapan riset yang direncanakan mencakup tiga fase utama:
- Fase I (2025-2026): Desain detail dan simulasi CFD (Computational Fluid Dynamics) untuk optimasi variable cycle dan thermal management baterai.
- Fase II (2026-2027): Fabrikasi prototipe komponen utama — turbin gas mini 150 kW, motor listrik 50 kW, dan power electronics 400V DC.
- Fase III (2027-2028): Integrasi dan uji darat di test bed BPPT, dilanjutkan uji terbang pada platform UAV MALE buatan PT Dirgantara Indonesia.
Keberhasilan program ini akan memotong ketergantungan impor mesin UAV dari negara-negara seperti Pratt & Whitney (Kanada) atau Aero Engines (Austria) yang selama ini mendominasi pasar turboprop kelas 150-300 kW. Dengan kapasitas produksi potensial 20-30 unit per tahun, BPPT membuka peluang substitusi impor senilai Rp 1,2 triliun per dekade. Data ini menunjukkan efisiensi operasional yang krusial untuk misi pengintaian dan serangan jarak jauh, serta memperkuat daya saing industri pertahanan nasional.
Outlook teknologi: Engine turboprop hybrid BPPT bukan sekadar inovasi propulsi, melainkan fondasi bagi kemandirian alutsista udara Indonesia. Pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk segera membangun rantai pasok komponen lokal, terutama untuk motor listrik dan baterai berdaya tinggi, guna memanfaatkan momentum ini. Dengan integrasi teknologi variable cycle dan ISG, Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci di pasar UAV MALE global, mengurangi ketergantungan pada impor, dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pertahanan strategis jangka panjang.