READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

BPPT Kembangkan Drone Tempur Elang-2 dengan AI Autopilot

BPPT Kembangkan Drone Tempur Elang-2 dengan AI Autopilot

BPPT mengumumkan pengembangan drone tempur Elang-2 dengan AI autopilot dan spesifikasi teknis canggih termasuk rentang sayap 12 meter, kecepatan 250 km/jam, dan muatan 400 kg. Program ini dijadwalkan uji coba pada Desember 2026 dan bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor alutsista. Inovasi ini berpotensi mengakselerasi kemandirian industri pertahanan nasional melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan dan swarn intelligence.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) resmi mengumumkan lompatan signifikan dalam pengembangan alutsista nasional melalui proyek drone tempur Elang-2 yang diintegrasikan dengan sistem kecerdasan buatan untuk misi pengintaian dan serangan presisi. Dengan rentang sayap mencapai 12 meter dan kecepatan jelajah 250 km/jam, platform udara tak berawak ini dirancang untuk membawa muatan tempur maksimal 400 kg. Inovasi utama terletak pada AI autopilot yang memungkinkan kemampuan terbang otonom dalam formasi swarn, sebuah teknologi yang sebelumnya hanya dikuasai oleh segelintir negara maju. Langkah ini menandai era baru kemandirian industri pertahanan Indonesia di segmen unmanned combat aerial vehicle (UCAV).

Spesifikasi Teknis dan Arsitektur Kecerdasan Buatan

Dalam konteks teknis, drone tempur Elang-2 mengadopsi arsitektur AI autopilot berbasis deep reinforcement learning yang memungkinkan adaptasi real-time terhadap medan tempur dinamis. Sistem ini tidak hanya mengelola navigasi dan stabilitas penerbangan, tetapi juga mengintegrasikan sensor data fusion untuk identifikasi target otomatis. Berikut spesifikasi kunci yang dirilis BPPT:

  • Dimensi: Rentang sayap 12 meter dengan material komposit serat karbon untuk mengurangi radar cross-section
  • Performa: Kecepatan jelajah 250 km/jam dan durasi terbang hingga 18 jam pada misi pengintaian
  • Muatan: Kapasitas maksimal 400 kg untuk kombinasi sensor EO/IR, SAR, dan persenjataan presisi
  • Sistem AI: Algoritma swarn intelligence untuk koordinasi multi-drone dengan latency di bawah 50 ms
  • Navigasi: Autopilot hybrid GNSS/INS dengan kemampuan operasi di lingkungan GNSS-denied

Jadwal Uji Coba dan Dampak Industri Pertahanan

Uji coba terbang dijadwalkan pada Desember 2026 di Puslatpur TNI AU, yang akan menjadi validasi kritis terhadap integrasi AI autopilot dalam skenario operasi nyata. BPPT menargetkan bahwa keberhasilan program ini akan secara langsung mengurangi ketergantungan pada drone tempur impor yang selama ini mendominasi anggaran pengadaan Kementerian Pertahanan. Dengan nilai pasar UCAV global diperkirakan mencapai USD 14,5 miliar pada 2030, langkah ini sekaligus membuka peluang ekspor bagi industri pertahanan nasional. Kolaborasi dengan BUMN strategis seperti PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad juga direncanakan untuk mempercepat proses produksi massal pasca uji coba.

Outlook teknologi menunjukkan bahwa pengembangan drone tempur Elang-2 bukan hanya soal kemampuan militer, tetapi juga katalis bagi ekosistem riset dan industri alutsista dalam negeri. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah segera mengamankan lisensi produksi komponen AI autopilot dan sensor kunci, serta membangun pusat pengujian swarn drone di dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemain utama di pasar UCAV kawasan Asia Tenggara, sekaligus memperkuat kemandirian pertahanan yang berkelanjutan.

drone tempur|BPPT|AI autopilot
ENTITAS TERKAIT
Topik: teknologi drone, AI autopilot, pertahanan nasional
Organisasi: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI AU
Lokasi: Puslatpur TNI AU
ARTIKEL TERKAIT