Menteri Pertahanan Bambang Brodjonegoro menegaskan proyeksi strategis Indonesia sebagai lumbung industri pertahanan ASEAN pada 2030 dalam Indonesia Defence Forum 2026. Data terbaru menunjukkan nilai produksi industri pertahanan nasional telah mencapai Rp28 triliun pada 2026, dengan pertumbuhan 15% year-on-year dan kontribusi ekspor sebesar 20% dari total produksi. Capaian ini menempatkan Indonesia pada posisi penting di peta manufaktur alutsista kawasan, didukung oleh portofolio platform yang telah menembus pasar internasional.
Peta Jalan Manufaktur: Investasi R&D dan Kawasan Industri Terpadu
Pemerintah merancang dua pilar utama untuk memperkuat ekosistem industri pertahanan: peningkatan investasi riset hingga 2% dari PDB pertahanan serta pembangunan kawasan industri terpadu di Batam, Bintan, dan Tanjung Priok. Kawasan ini akan menjadi pusat produksi komponen kritis dan final assembly, memangkas ketergantungan impor, serta meningkatkan local content di atas 60% untuk setiap platform alutsista. Sejumlah produk unggulan menjadi andalan dalam strategi ini:
- Tank Harimau – kendaraan tempur lapis baja dengan bobot tempur 30 ton dan persenjataan utama meriam 105mm.
- Kapal perang modular – dirancang dengan konsep plug-and-play untuk misi patroli, anti-kapal selam, dan peperangan elektronik.
- Rudal anti-kapal – memiliki jangkauan operasional hingga 150 km dengan sistem navigasi inersial dan radar aktif.
- Pesawat N-219 – mampu membawa 19 penumpang atau kargo 3,5 ton dengan jarak jelajah 1.500 km.
Proyeksi Penguasaan Pasar dan Kolaborasi ADIC
Bambang memproyeksikan pasar alutsista ASEAN mencapai $12 miliar per tahun pada 2030, dengan target Indonesia menguasai setidaknya 25% pangsa pasar. Untuk merealisasikan ambisi tersebut, Indonesia mendorong pembentukan ASEAN Defence Industry Collaboration (ADIC) guna menciptakan standarisasi spesifikasi dan interoperabilitas antarnegara anggota. Kolaborasi ini mencakup pengembangan bersama sistem radar, propelan roket, dan komponen elektronik pertahanan.
Melalui rantai pasok regional yang terintegrasi, industri pertahanan nasional dapat meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat posisi sebagai pusat produksi alutsista di kawasan. Keberhasilan Indonesia menjadi lumbung industri pertahanan ASEAN pada 2030 sangat bergantung pada akselerasi adopsi teknologi produksi otonom dan digital twin di pabrik-pabrik pertahanan. Pelaku industri nasional disarankan untuk segera menjalin kemitraan strategis dengan pengembang teknologi siber-fisik serta memperkuat investasi di bidang artificial intelligence untuk memenangkan kompetisi teknologi global.