READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

Badan Strategis Pertahanan Rilis Roadmap Pengembangan Drone Tempur Nasional 2027-2035

Badan Strategis Pertahanan Rilis Roadmap Pengembangan Drone Tempur Nasional 2027-2035

Badan Strategis Pertahanan merilis Roadmap Drone Tempur Nasional 2027–2035 dengan anggaran Rp7,5 triliun untuk mengembangkan UCAV dari fase MALE hingga stealth ber-AI. Kolaborasi PT Dirgantara Indonesia, PT LEN Industri, dan BPPT menargetkan produksi 50 unit per tahun mulai 2030, dilengkapi teknologi swarming dan komunikasi satelit. Roadmap ini menjadi fondasi kemandirian alutsista sekaligus memperkuat integrated air defense system nasional.

Badan Strategis Pertahanan (BSP) secara resmi merilis Roadmap Pengembangan Drone Tempur Nasional 2027–2035 yang menetapkan peta jalan menuju kemandirian produksi Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) dalam negeri. Dokumen ini mengalokasikan anggaran riset sebesar Rp7,5 triliun untuk menguasai teknologi kritis seperti mesin turbojet kecil, sistem kendali otonom, sensor fusion, dan algoritma kecerdasan buatan (AI) untuk manajemen misi taktis. Roadmap ini tidak hanya menargetkan produksi massal 50 unit drone tempur per tahun mulai 2030, tetapi juga membangun ekosistem industri pertahanan yang terintegrasi—dari hulu ke hilir—di bawah koordinasi PT Dirgantara Indonesia, PT LEN Industri, dan BPPT.

Tiga Fase Transformasi UCAV: Dari MALE hingga Stealth Ber-AI

Roadmap mengidentifikasi tiga fase pengembangan yang terukur dan progresif, masing-masing dengan capaian teknis spesifik:

  • Fase I (2027–2029): Fokus pada pengembangan drone pengintai MALE (Medium Altitude Long Endurance) dengan muatan sensor Electro-Optical/Infrared (EO/IR) dan Signals Intelligence (SIGINT). Tahap ini menjadi fondasi bagi penguasaan teknologi avionik dan komunikasi data-link jarak jauh.
  • Fase II (2030–2032): Peningkatan kemampuan menjadi UCAV jarak menengah yang dilengkapi internal weapons bay untuk membawa persenjataan presisi. Pada fase ini, integrasi sistem kendali tembakan dan manajemen misi otonom mulai diujicobakan.
  • Fase III (2033–2035): Peluncuran drone tempur stealth dengan kemampuan otonomi taktis penuh berbasis AI. Teknologi swarming dan komunikasi satelit juga menjadi prioritas untuk memungkinkan operasi di wilayah terpencil tanpa ketergantungan infrastruktur darat.

Kolaborasi Industri dan Teknologi Kritis: Membangun Ekosistem Drone Tempur Nasional

Program ini mengandalkan sinergi lintas sektor antara BUMN pertahanan, lembaga riset, dan industri kecil menengah. PT Dirgantara Indonesia bertanggung jawab atas desain aerodinamika dan integrasi sistem, PT LEN Industri mengelola elektronika dan sistem kendali, sementara BPPT mengawasi riset material komposit dan algoritma AI. Swarming technology menjadi salah satu fokus utama, memungkinkan formasi drone tempur bekerja sebagai networked swarm yang dapat berkoordinasi dengan pesawat tempur berawak dalam misi loyal wingman. Selain itu, pengembangan counter-UAS terintegrasi dengan integrated air defense system nasional direncanakan untuk memperkuat pertahanan udara dari ancaman drone musuh. Rantai pasok lokal untuk sensor, komunikasi, dan sistem kendali akan diprioritaskan guna memastikan kemandirian pasokan dan mengurangi ketergantungan pada komponen impor.

Dengan roadmap ini, Indonesia tidak hanya mengejar kapasitas produksi tetapi juga penguasaan teknologi masa depan. Para pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk segera membangun pusat uji terbang dan laboratorium integrasi AI, serta memperkuat kerja sama dengan universitas dalam riset algoritma otonom. Keberhasilan program ini akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain utama kawasan dalam ekosistem UCAV generasi mendatang.

Drone Tempur|UCAV|Roadmap|Badan Strategis Pertahanan
ENTITAS TERKAIT
Topik: pengembangan drone tempur nasional, industri pertahanan
Organisasi: Badan Strategis Pertahanan (BSP), PT Dirgantara Indonesia, PT LEN Industri, BPPT
ARTIKEL TERKAIT